LPDB Koperasi Dorong Pengembangan Ekosistem Usaha Syariah

LPDB Koperasi mendorong BMT THS Lombok Timur membangun ekosistem usaha syariah yang menghubungkan petani, pengepul, hingga pasar. (Foto: Dok LPDB)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi mendorong pengembangan ekosistem usaha berkelanjutan melalui koperasi di daerah. Salah satu contohnya terlihat pada KSPPS BMT Tunas Harapan Syantara (THS) di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dengan dukungan pembiayaan dan pendampingan LPDB Koperasi, BMT THS memperluas akses pembiayaan bagi anggota.

Koperasi tersebut juga membangun ekosistem usaha berbasis syariah dari hulu hingga hilir. Rantai bisnis itu menghubungkan petani ikan, distributor pakan, pengepul, hingga akses pasar.

Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto mengatakan keberhasilan BMT THS menunjukkan pentingnya tata kelola koperasi yang sehat.

 

“Keberhasilan BMT Tunas Harapan Syantara menunjukkan bahwa dana bergulir akan memberikan dampak yang jauh lebih besar ketika dikelola oleh koperasi yang memiliki tata kelola yang baik, membangun ekosistem usaha anggotanya, dan terus berinovasi. Bagi LPDB Koperasi, pembiayaan hanyalah pintu masuk. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana koperasi bertumbuh, anggotanya semakin berdaya, usahanya berkembang, dan manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat secara luas,” ujar Krisdianto dalam keterangan tertulis, Selasa (25/8/2026).

Menurut Krisdianto, LPDB Koperasi tidak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan. Lembaga tersebut juga menjadi mitra strategis koperasi melalui pendampingan kelembagaan dan penguatan tata kelola.

Pendampingan mencakup monitoring usaha hingga peningkatan kapasitas pengurus koperasi.

“Kami ingin setiap koperasi mitra LPDB tidak hanya tumbuh dari sisi aset dan penyaluran pembiayaan, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketika koperasi mampu membangun ekosistem usaha seperti yang dilakukan BMT Tunas Harapan Syantara, maka manfaat dana bergulir akan berlipat ganda. Anggota memperoleh akses pembiayaan, kepastian usaha, pendampingan, hingga perluasan pasar. Inilah tujuan besar yang ingin terus kami dorong melalui dana bergulir LPDB Koperasi,” katanya.

BMT THS Bangun Ekosistem Usaha Tertutup

Ketua Pengurus KSPPS BMT Tunas Harapan Syantara Sarni mengatakan koperasi tersebut berdiri sejak 2013.

BMT THS kini berkembang menjadi koperasi syariah modern dengan layanan simpan pinjam dan pembiayaan syariah.

Sejumlah unit usaha produktif kemudian dipisahkan menjadi badan usaha tersendiri. Langkah tersebut dilakukan agar koperasi dapat fokus menjalankan fungsi intermediasi keuangan.

Menurut Sarni, kebijakan itu justru menjadi fondasi pengembangan model closed loop ecosystem.

Melalui model tersebut, koperasi membiayai petani ikan, distributor pakan, pengepul, dan pelaku usaha lain.

Seluruh pelaku usaha dalam rantai bisnis tersebut juga menjadi anggota koperasi. Saat ini, sekitar 300 petani ikan tergabung dalam ekosistem tersebut.

Mereka didukung sekitar 10 pengepul yang membina puluhan petani. Sebagian hasil produksi anggota bahkan telah memasok kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Bagi petani, mereka tidak lagi bingung mencari modal, membeli pakan, ataupun menjual hasil panennya. Semua sudah terhubung dalam satu sistem,” ujar Sarni.

Ekosistem tersebut juga mencakup kebutuhan masyarakat di luar kegiatan usaha.

Ketika menghadapi persoalan distribusi air, koperasi menggagas Pengelolaan Air Minum Dusun (PAMDUS). Layanan tersebut kini memasok kebutuhan air bagi kawasan budidaya ikan.

Sebagai koperasi syariah, BMT THS juga mengembangkan fungsi Baitul Maal. Kegiatannya mencakup pengelolaan zakat, infak, sedekah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Pendampingan LPDB Perkuat Koperasi

Sarni mengatakan kemitraan dengan LPDB Koperasi turut mempercepat pertumbuhan BMT THS.

“Kami sebenarnya bukan hanya mencari sumber dana. Yang kami cari adalah pendampingannya. Itu yang menurut kami sangat berharga,” katanya.

Menurut Sarni, pendampingan LPDB Koperasi turut meningkatkan kepercayaan masyarakat. Dampaknya terlihat dari meningkatnya simpanan anggota dan aset koperasi.

Aset BMT THS meningkat dari sekitar Rp10 miliar menjadi Rp18 miliar. Jaringan usaha koperasi juga semakin luas melalui kemitraan bersama anggota.

Generasi Muda Dorong Transformasi Digital

Transformasi BMT THS juga melibatkan generasi muda. Mayoritas pengurus dan pengelola koperasi berasal dari kalangan milenial dan Generasi Z.

Mereka mengembangkan inovasi digital melalui aplikasi My Collector dan THS Mobile. Digitalisasi tersebut membuat pelayanan anggota menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien.

Manfaat pembiayaan dana bergulir juga dirasakan langsung anggota koperasi. Petani ikan BMT THS, Mahrip, mengatakan pembiayaan koperasi memberikan kepastian modal. Skema pembayaran juga disesuaikan dengan siklus usaha budidaya ikan.

“Kalau petani ikan itu yang paling penting modal cepat dan pembayarannya menyesuaikan musim panen. Di BMT THS kami dibantu pembiayaan sesuai kebutuhan usaha. Cicilannya juga mengikuti siklus usaha kami, jadi tidak memberatkan,” ujar Mahrip.

Menurutnya, koperasi memudahkan petani memperoleh modal untuk membeli bibit dan pakan. Hasil panen juga memiliki pasar melalui jejaring usaha yang dibangun koperasi.

“Bukan hanya modal yang kami dapat, tetapi usaha kami juga lebih tenang karena hasil panen sudah ada yang menampung,” katanya.

Pembiayaan Koperasi Perluas Usaha Anggota

Manfaat serupa dirasakan Murdini, anggota BMT THS yang berprofesi sebagai pengepul ikan. Ia menggunakan pembiayaan koperasi untuk membeli kendaraan operasional.

Kendaraan tersebut digunakan mendistribusikan hasil laut ke sejumlah pasar tradisional di Lombok.

“Saya pernah mencoba mengajukan ke bank, tetapi belum tentu bisa disetujui. Di koperasi prosesnya lebih mudah, persyaratannya tidak rumit, dan sangat membantu usaha kami,” ungkap Murdini.

Usahanya memasok ikan tongkol, tuna, cakalang, cumi, hingga sotong. Sebagian hasil tangkapan juga disalurkan ke dapur MBG. Sementara ikan tuna premium disimpan menggunakan fasilitas cold storage sebelum dipasarkan.

“Koperasi membuat usaha kami berkembang. Kendaraan operasional sangat membantu distribusi hasil tangkapan sehingga jangkauan pemasaran menjadi lebih luas,” ujarnya.

Pembiayaan koperasi juga dimanfaatkan peternak ayam petelur di Lombok Timur, Jalaluddin. Menurutnya, kecepatan pembiayaan penting untuk menjaga produktivitas usaha peternakan.

“Kalau di bank prosesnya lama dan persyaratannya cukup banyak. Di koperasi lebih mudah, lebih cepat, dan yang paling penting menggunakan prinsip syariah. Saya sangat terbantu karena usaha peternakan itu membutuhkan keputusan yang cepat,” katanya.

Dana tersebut digunakan untuk pengembangan kandang dan pembelian pakan. Pembiayaan juga dimanfaatkan untuk operasional dan penambahan bibit ayam petelur.

Saat ini, Jalaluddin memelihara lebih dari 3.000 ekor ayam petelur. Produksinya mencapai sekitar 100 tray telur setiap hari. Hasil produksi dipasarkan ke berbagai agen di Lombok Timur dan Lombok Barat.

“Kalau kebutuhan pakan terlambat sedikit saja, produksi bisa turun. Karena itu pembiayaan yang cepat dari koperasi sangat membantu kami menjaga produktivitas usaha,” tutupnya.

Bagi LPDB Koperasi, BMT THS menunjukkan bahwa dana bergulir dapat menjadi katalisator ekonomi masyarakat. Pembiayaan tersebut dapat memperkuat kelembagaan koperasi dan memperluas akses usaha anggota.

Model BMT THS juga dinilai mampu menciptakan ekosistem ekonomi rakyat yang berkelanjutan. Pengembangan tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi koperasi di berbagai daerah.

Koperasi diharapkan mampu berkembang secara profesional, adaptif terhadap teknologi, dan berlandaskan prinsip syariah.

Dengan demikian, koperasi dapat semakin berperan sebagai penggerak ekonomi kerakyatan Indonesia. (sbh)