Koperasi Kopi Kamanuru Buktikan Petani Bisa Kuasai Rantai Nilai

ILUSTRASI – Koperasi Petani Kopi Kamanuru di Sigi memperkuat posisi tawar petani melalui pengolahan kopi dan dukungan BI dari hulu hingga hilir. (FOTO: iStockphoto)

MajalahPIP.com – Koperasi Petani Kopi Kamanuru di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membuktikan petani bisa memperkuat posisi dalam bisnis kopi.

Koperasi tersebut mengolah hasil panen petani dari kebun hingga menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Koperasi Petani Kopi Kamanuru merupakan salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI) KPw Sulawesi Tengah. Langkah tersebut menjadi upaya menjawab persoalan rendahnya harga kopi yang diterima petani.

Pada 2017-2018, harga green bean asalan di daerah tersebut hanya berkisar Rp20.000-Rp30.000 per kilogram. Harga yang rendah membuat sebagian petani bahkan memilih menebang tanaman kopi Arabika.

 

“Nyaris tak bernilai ekonomi. Saking rendahnya harga kala itu, tak sedikit petani menebang pohon Arabika sendiri, karena biji besar dianggap kurang laku dibanding Robusta,” ujar Bobby, Divisi Pemasaran Kopi Kamanuru seperti dikutip dari laman Bank Indonesia, Senin (24/8/2026).

Kondisi tersebut mendorong petani membentuk Himpunan Petani Kopi Kamanuru. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi koperasi yang membeli cherry langsung dari petani.

Koperasi selanjutnya mengolah hasil panen dan memasarkannya dengan nilai tambah lebih tinggi.

Koperasi Perkuat Posisi Tawar Petani

Koperasi Petani Kopi Kamanuru kini memiliki sekitar 30 anggota. Koperasi tersebut mengorganisasi sekitar 40-50 petani dengan lahan mencapai 40 hektare.

Lahan perkebunan tetap dimiliki masyarakat, sedangkan koperasi menangani proses pengolahan.

Tidak ada pemilik tunggal dalam koperasi tersebut karena setiap anggota merupakan pemilik bersama.

Modal awal koperasi juga berasal dari kontribusi para petani. Sekitar 20 orang patungan dari hasil 10 kilogram cokelat untuk membeli cherry pertama.

Para anggota kemudian belajar secara mandiri selama tiga tahun. Mereka mempelajari pembenihan, budidaya, pengolahan pascapanen, hingga roasting.

Mereka juga bertukar pengetahuan dengan pelaku industri kopi dari luar Sulawesi Tengah. Salah satu pengetahuan penting yang mereka dapatkan adalah perbandingan hasil produksi.

Dari sekitar 7 kilogram cherry, hanya dihasilkan sekitar 1 kilogram green bean.

Model koperasi dipilih karena petani secara individu memiliki keterbatasan dalam bernegosiasi. Keterbatasan tersebut terutama berkaitan dengan harga, kualitas, dan konsistensi pasokan. Petani juga tidak perlu melakukan seluruh proses pengolahan hasil panen secara mandiri.

“Lewat koperasi, posisi tawar petani jauh lebih kuat. Harga cherry stabil, alat dan proses pengolahan dipakai bersama, dan risiko gagal jual ditanggung kolektif,” ujar Bobby.

Tujuan akhirnya adalah meningkatkan manfaat ekonomi yang diterima petani dari kebun sendiri. Petani dapat memenuhi kebutuhan kopi dari hasil kebunnya tanpa membeli dari luar. Mereka juga dapat menyisihkan uang belanja kopi untuk kebutuhan keluarga.

Sementara itu, kelebihan produksi dapat dijual sebagai tambahan pendapatan. Bagi hasil koperasi kini dapat mencapai Rp2 juta-Rp3 juta per anggota setiap tahun.

Kopi Kamanuru Tembus Pasar Lebih Luas

Kamanuru kini memiliki pelanggan individu, kafe, dan roastery di sekitar Palu. Koperasi juga menjalin kerja sama dengan pelaku usaha di Jakarta untuk produk green bean.

Setiap produk yang dipasarkan melewati proses panjang untuk menjaga kualitas. Proses tersebut dimulai dari pemilihan cherry hingga pengolahan natural.

Tahap roasting juga disesuaikan dengan karakter rasa masing-masing varietas kopi. Salah satu varietas unggulan Kamanuru adalah Tipika.

Kopi tersebut memiliki karakter rasa fruity dengan nuansa nanas, jeruk, dan beri. Aromanya juga memiliki karakter floral jasmin.

Selain Tipika, Kamanuru mengembangkan varietas Linies dan Katimor. Namun, produksi Tipika menjadi yang paling sedikit sekaligus paling banyak dicari. Permintaan pasar terhadap kopi Kamanuru juga terus berkembang.

“Ada pembeli minta 300 kilogram per bulan, sementara koperasi baru sanggup memenuhi 100 kilogram, karena bahan baku cherry masih terbatas akibat penanaman ulang yang baru berjalan tiga tahun,” ujar Bobby.

Keterbatasan produksi menjadi salah satu tantangan koperasi dalam memenuhi permintaan pasar.

Pengemasan masih dilakukan secara manual. Beberapa kebutuhan kemasan khusus masih harus didatangkan dari Jakarta.

Koperasi juga belum memiliki toko ritel sendiri dan masih mengandalkan sistem pre-order. Model tersebut diterapkan untuk menjaga kesegaran produk kopi. Di sisi lain, minat terhadap kopi Arabika di Sulawesi Tengah mulai meningkat.

Kamanuru masih menghadapi tantangan edukasi karena sebagian masyarakat menganggap Arabika dapat menyebabkan asam lambung.

BI Perkuat Produksi Koperasi Kopi Kamanuru

Peningkatan kualitas kopi perlu dibarengi dengan penguatan kapasitas produksi. Karena itu, pendampingan BI menjadi bagian penting dalam pengembangan Koperasi Petani Kopi Kamanuru.

Selama sekitar tiga tahun menjadi binaan BI KPw Sulawesi Tengah, koperasi mendapat berbagai dukungan. Dukungan tersebut mencakup peralatan produksi, seperti mesin wash, pengupas, ayakan, hingga alat sangrai.

BI juga membantu penguatan rumah produksi Kamanuru. Selain itu, koperasi mendapatkan pelatihan manajemen keuangan.

Pelatihan tersebut membantu koperasi mengatasi persoalan pengelolaan selisih kas yang sebelumnya kerap membingungkan.

BI juga membantu memperluas akses pasar melalui pameran dan promosi. Penguatan jejaring dengan pelaku industri kopi juga menjadi bagian dari pendampingan.

Dukungan peralatan turut mempercepat proses produksi koperasi.

Pesanan 20 kilogram yang sebelumnya membutuhkan tiga hari tiga malam dengan mesin manual. Kini, pesanan 50 kilogram dapat diselesaikan dalam waktu satu hingga dua hari.

Kamanuru juga telah mengikuti World of Coffee Jakarta 2025. Pada 2026, koperasi tersebut kembali hadir dalam Karya Kreatif Indonesia 2026.

Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar sekaligus sarana mendapatkan masukan dari pasar.

Barista Didorong Ikut Membina Petani Kopi

Penguatan ekosistem kopi juga dilakukan BI melalui program Cangkir Barista. Program tersebut menjadi bagian dari Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu 2026.

BI menargetkan mencetak 400 barista bersertifikat internasional setiap tahun. Program tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan barista dalam mengolah kopi.

Barista yang lolos juga diwajibkan membina petani kopi. Pendampingan mencakup cara memilih cherry hingga memilah kualitas biji kopi. Dengan demikian, hubungan antara petani dan barista diharapkan semakin kuat. Keduanya dapat berkembang bersama dalam rantai nilai industri kopi.

Meski demikian, Kamanuru mengakui masih membutuhkan penguatan dalam budidaya dan pascapanen lanjutan.

Pengetahuan terkait aspek tersebut masih banyak dipelajari secara mandiri. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk dukungan lanjutan bagi koperasi.

Kamanuru Bidik Pasar Kopi Bubuk dan Sasetan

Koperasi Petani Kopi Kamanuru terus menyiapkan strategi untuk meningkatkan produksi. Saat ini, koperasi menanam sekitar 10 ribu bibit kopi. Penanaman tersebut ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi pada tahun depan.

Kamanuru juga membidik pasar kopi bubuk dan kopi sasetan. Pasar tersebut menyasar masyarakat di wilayah perdesaan.

Selain itu, koperasi merencanakan pembangunan pusat edukasi kopi di Marawola Barat. Langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi Kamanuru dalam rantai industri kopi.

Kisah Kamanuru menunjukkan pentingnya keterlibatan petani dalam rantai nilai kopi. Petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga bagian dari proses pengolahan.

Koperasi menjadi wadah untuk memperkuat posisi tawar dan meningkatkan nilai tambah.

Pada akhirnya, manfaat ekonomi kopi diharapkan kembali kepada masyarakat di daerah asalnya. (MajalahPIP)