TNI Dilibatkan Proyek Ubah Sampah Jadi BBM, Bisa Olah 1.000 Ton Sehari

Pemerintah menggandeng TNI mengolah gunungan sampah menjadi BBM melalui teknologi pirolisis. Proyek menyasar lima lokasi.
Pemerintah menggandeng TNI mengolah gunungan sampah menjadi BBM melalui teknologi pirolisis. Proyek menyasar lima lokasi. (FOTO: iStockphoto/Ilustrasi)

MajalahPIP.com, BEKASI – Pemerintah menggandeng TNI untuk mengolah timbunan sampah lama menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Teknologi pirolisis akan digunakan untuk mengubah sampah yang telah menggunung menjadi bahan bakar.

Program tersebut melengkapi pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai kolaborasi diperlukan untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah.

 

Pemerintah, kata dia, membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk TNI.

“Kita juga terima kasih kepada Bapak Maruli, TNI Angkatan Darat, yang akan membantu kita untuk mengubah (sampah) yang sudah lama. Sampah ini kan hanya baru datang. Kota Bekasi ini ada yang baru datang sampahnya 1.800 ton. Tapi yang menjadi gunung itu banyak. Nah, yang jadi gunung itu akan dikelola TNI, nanti kerja sama akan pirolisis, jadi minyak,” ujar Zulhas di Bekasi, Rabu (26/8/2026).

TNI Fokus Olah Sampah Lama

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan TNI akan fokus mengolah timbunan sampah lama. Pengolahan dilakukan bersama mitra yang dipilih TNI. Sementara itu, pemerintah tetap menjalankan pengelolaan sampah melalui program PSEL.

“Yang kami akan olah adalah timbunan-timbunan sampah lama. Yang inilah yang mungkin sampai dengan sekarang masih belum ada yang bisa memilah ini. Kebetulan ada yang bisa dari partner kami, dari Pak Agus, Pak Agus itu dari pengelola, salah satu dirut di pengembang ini yang mampu mengerjakan ini. Jadi nanti dari sampah lama ini bisa 1.000 ton per hari diproses,” katanya.

Maruli memperkirakan fasilitas tersebut mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah lama setiap hari.

Namun, fasilitas utama membutuhkan lahan sekitar lima hektare. Area pre-treatment juga membutuhkan tambahan lahan sekitar setengah hektare di setiap lokasi. Kebutuhan lahan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam merealisasikan proyek.

“Kalau itu bisa ada lahannya, bagaimana teknis penggunaannya, ini yang mungkin nanti saya akan ulas sedikit, kami bisa segera kerjakan. Jadi itu intinya,” katanya.

Lima Lokasi Jadi Sasaran Pengolahan

Maruli mengatakan proyek pengolahan sampah tersebut akan diterapkan di lima lokasi.

Lokasi tersebut meliputi Bantargebang, Sumur Baru di Bekasi, dan Galuga Bogor. Dua lokasi lainnya adalah Sarimukti Bandung dan Jatibarang Semarang.

Namun, pelaksanaan proyek masih menghadapi sejumlah kendala. Kendala tersebut mencakup ketersediaan lahan dan proses perizinan.

Selain itu, TNI masih mempertimbangkan mekanisme penjualan hasil olahan sampah. Hasil pengolahan tersebut nantinya akan berupa bahan bakar jenis solar.

TNI Targetkan Pabrik Beroperasi Setahun

Maruli mengatakan persoalan perizinan menjadi salah satu faktor penting dalam proyek tersebut. Jika seluruh perizinan dapat diselesaikan, pembangunan pabrik ditargetkan berlangsung paling lama satu tahun.

“Jadi intinya kalau ini sudah bisa diselesaikan masalah perizinan, mungkin satu tahun pabrik-pabrik ini bisa jalan Pak. Jadi ini sudah kami kerjakan dari sejak April perintah dari Presiden itu, sampai dengan sekarang masalah tempat kami belum bisa dapatkan. Kalau ini sudah bisa selesai, kita go paling lama satu tahun, pabrik sudah siap untuk bisa mengolah sampah seribu ton per hari di setiap titik,” terangnya.

Proyek tersebut diharapkan membantu mengurangi timbunan sampah lama yang selama ini menggunung.

Pengolahan melalui pirolisis juga diarahkan menghasilkan produk bernilai ekonomi berupa BBM.

Pemerintah berharap kolaborasi tersebut mempercepat penanganan persoalan sampah di sejumlah daerah. (sbh)