KDMP Wonokerto Dongkrak Omzet dari Rp2 Juta Jadi Rp260 Juta

MajalahPIP.com, PASURUAN – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Wonokerto, Pasuruan, Jawa Timur, mencatat perkembangan bisnis signifikan. Berawal dari modal Rp2 juta, koperasi kini membukukan omzet rata-rata Rp260 juta per bulan.
Koperasi tersebut awalnya hanya menjual kebutuhan sembako melalui kerja sama dengan sejumlah BUMN. Kini, KDMP Wonokerto berkembang menjadi gerai ritel modern dengan harga terjangkau.
Tak hanya melayani konsumen, koperasi juga memasok kebutuhan sejumlah toko kelontong di sekitar Desa Wonokerto. Model bisnis tersebut membuat koperasi berperan sebagai pusat distribusi bagi pedagang lokal.
KDMP Desa Wonokerto menjadi satu dari delapan proyek percontohan koperasi nasional di Jawa Timur. Program tersebut digagas Presiden Prabowo Subianto.
Koperasi Desa Wonokerto didirikan pada 21 April 2025 di depan Kantor Desa Wonokerto. Gerainya kemudian berkembang menjadi toko ritel bergaya minimarket.
Ketua Koperasi Merah Putih Desa Wonokerto, Muhammad Yusril Suhendra, mengatakan koperasi bermula dari Musyawarah Desa Khusus (Musdesus).
Saat pembentukan pengurus, tidak ada warga yang bersedia mencalonkan diri sebagai ketua koperasi. Proses pemilihan akhirnya dilakukan melalui mekanisme voting.
“Akhirnya dilakukan mekanisme voting, dan ditunjuklah satu orang ketua. Selanjutnya ketua tersebut menunjuk susunan pengurus lainnya. Kebetulan saya yang ditunjuk saat itu,” ujar Yusril, Jumat (14/8/2026).
Berawal dari Modal Rp2 Juta
Setelah pengurus terbentuk, koperasi dituntut segera menjalankan kegiatan usaha. Namun, modal awal yang tersedia masih sangat terbatas.
Pengurus menetapkan simpanan pokok Rp100.000 dan simpanan wajib Rp10.000 per bulan. Dari iuran tersebut, terkumpul modal awal sekitar Rp2 juta.
Keterbatasan modal membuat pengurus mencari skema pembiayaan usaha alternatif. Mereka kemudian bernegosiasi dengan Perum Bulog dan sejumlah pemasok.
Kerja sama tersebut menggunakan sistem konsinyasi atau titip jual. Barang dikirim lebih dahulu dan pembayaran dilakukan setelah barang terjual.
Jangka waktu pembayaran dapat mencapai satu bulan. Skema ini membuat koperasi bisa menyediakan berbagai kebutuhan tanpa modal besar.
“Dengan uang modal Rp2 juta, tentu tidak mungkin cukup untuk membuat gerai sembako. Namun karena status kami sebagai pilot project, para pemangku kepentingan seperti Pertamina, Bulog, hingga ID Food datang berkunjung dan bersedia bermitra,” jelas Yusril.
Selain sembako, koperasi mengembangkan penjualan es krim karena lokasinya berada di kawasan pendidikan. Di sekitar gerai terdapat SD, TK, dan MTs.
Koperasi kemudian bekerja sama dengan pemasok es krim Walls dan Aice. Kerja sama tersebut memberikan fasilitas freezer kepada koperasi.
Dengan dukungan tersebut, usaha es krim dapat dimulai dengan modal kurang dari Rp2 juta.
Dapat Pembiayaan Rp864,3 Juta
Perkembangan usaha berlanjut setelah Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) menawarkan pembiayaan kepada koperasi.
Pengurus kemudian mengajukan proposal bisnis senilai Rp1,3 miliar. Dari pengajuan tersebut, koperasi mendapat persetujuan pembiayaan Rp864,3 juta.
Pembiayaan tersebut dikenakan bunga sebesar 3 persen per tahun. Agunan pembiayaan menggunakan jaminan pribadi milik Kepala Desa Wonokerto dan istrinya.
Jaminan tersebut berupa tujuh sertifikat tanah. Sertifikat tanah kas desa tidak dapat digunakan sebagai agunan pembiayaan.
“Dana pembiayaan yang cair pada September tersebut digunakan untuk membangun dua unit usaha utama: minimarket ritel dan gudang pasokan,” tambahnya.
Karena pengurus belum memiliki pengalaman di bidang ritel, koperasi merekrut konsultan profesional. Pendampingan dilakukan secara intensif selama 35 hari secara luring.
Pelatihan mencakup kasir, manajemen stok, input barang, hingga penataan produk. Konsultan juga memberikan pendampingan sistem secara daring selama satu tahun.
“Alhamdulillah unit usaha minimarket dan gudang Koperasi Merah Putih secara resmi melakukan grand opening pada 30 Oktober 2025 lalu,” tambahnya.
Saat ini, unit ritel tersebut mempekerjakan lima pegawai lokal. Gerai beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.
Dari aktivitas tersebut, koperasi mencatat omzet rata-rata sekitar Rp260 juta setiap bulan.
KDMP Tak Ingin Matikan Warung Kelontong
Yusril menegaskan koperasi tidak ingin keberadaan minimarket mematikan warung kelontong. Karena itu, koperasi menyediakan harga khusus kulakan bagi pemilik toko sekitar.
Strategi tersebut diterapkan setelah sejumlah pedagang mengeluhkan persaingan dengan koperasi. Persaingan terutama terjadi pada barang bersubsidi yang dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Salah satu contohnya adalah LPG 3 kilogram. Koperasi sebelumnya menjual LPG tersebut seharga Rp18.000.
Sementara itu, harga di toko lain mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000. Kini, koperasi menawarkan harga kulakan Rp17.000 kepada pedagang.
“Nah, pemilik toko-toko kelontong dapat membeli di koperasi kemudian menjual kembali ke masyarakat seharga Rp18.000 atau Rp19.000. Dengan demikian, pedagang kecil tetap mengantongi keuntungan tanpa kehilangan pembeli,” jelasnya.
Koperasi juga membatasi pembelian barang bersubsidi untuk menjaga pemerataan distribusi. Pembelian Minyakita dan beras SPHP dibatasi maksimal dua liter per orang setiap hari.
“Aturan itu agar mencegah monopoli borongan dan memastikan stok terbagi adil di semua warga,” tambahnya.
Anggota Dapat Poin Belanja dan SHU
Pengurus juga memberikan poin kepada warga yang berbelanja di koperasi. Program tersebut bertujuan meningkatkan manfaat koperasi sekaligus menarik warga menjadi anggota.
Anggota koperasi juga berhak memperoleh pembagian sisa hasil usaha (SHU) setiap tahun. Pembagian dilakukan sesuai ketentuan koperasi.
“Setiap kali berbelanja, poin akan terkumpul dan diakumulasikan menjadi paket bingkisan THR sembako saat hari raya. Sehingga belanja di koperasi memberikan dampak kemanfaatan kembali ke warga,” pungkas Yusril.
Kepala Desa Wonokerto Sugiono mengaku senang melihat perkembangan koperasi tersebut. Ia menjadi pihak yang menggunakan sertifikat tanah miliknya sebagai agunan pembiayaan.
Sugiono berharap koperasi di depan Kantor Desa Wonokerto dapat terus bertahan. Ia juga berharap koperasi semakin memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Karena semangatnya koperasi di di sini tidak memosisikan diri sebagai musuh pedagang kecil, melainkan sebagai distributor/pemasok utama grosir terdekat dengan harga murah sehingga memotong rantai pasok pedagang lokal,” katanya. (sbh)

.jpeg)


