KDKMP Panerusan Wetan Bantu Petani dan UMKM Dongkrak Pendapatan

MajalahPIP.com, JAKARTA – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Panerusan Wetan, Banjarnegara, Jawa Tengah, mulai menggerakkan ekonomi masyarakat. Kehadiran koperasi tersebut memberikan manfaat langsung bagi petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Manfaat itu dirasakan melalui kemudahan mendapatkan pupuk, gas elpiji, kebutuhan pokok, hingga akses pasar bagi produk UMKM.
Mayoritas warga Desa Panerusan Wetan menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. Komoditas yang digarap masyarakat antara lain padi, jagung, dan kopi.
Desa Panerusan Wetan merupakan satu dari 15 desa di Kecamatan Susukan. Wilayah desa tersebut memiliki luas sekitar 2,99 kilometer persegi. Jumlah penduduknya mencapai 3.215 jiwa.
Salah satu warga yang merasakan manfaat KDMP adalah Suhardi, petani padi asal Panerusan Wetan. Sejak KDKMP hadir, Suhardi mengaku lebih mudah mendapatkan pupuk bersubsidi untuk kebutuhan pertaniannya.
Harga pupuk yang tersedia di koperasi juga dinilai lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.
“Sejak ada Koperasi Desa Merah Putih di Desa Panerusan Wetan, kami sangat terbantu, jadi kalau mau beli pupuk, enggak usah jauh-jauh lagi, harga juga lebih murah,” kata Suhardi, Sabtu (12/9/2026).
Sebelum KDKMP berdiri, Suhardi harus mencari pupuk hingga Pasar Purwareja Klampok. Jarak lokasi tersebut sekitar lima kilometer dari Desa Panerusan Wetan. Kondisi itu membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi.
“Dulu sebelum ada KDMP, kami harus cari pupuk cukup jauh, harganya juga agak mahal, belum karena jauh, harus pakai motor,” terang Suhardi.
Menurut Suhardi, proses mendapatkan pupuk bersubsidi sebelumnya juga dinilai cukup rumit. Ia menyebut petani harus memiliki Kartu Tani untuk memperoleh pupuk bersubsidi.
“Semenjak ada KDMP, kalau mau beli pupuk, tinggal beli saja, jadi makin mudah,” ujar Suhadi.
Selain petani, keberadaan KDKMP turut membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM. Salah satunya dirasakan Eko, pelaku UMKM yang menjual kopi robusta dari kawasan Pegunungan Sitata.
Sebelum KDKMP hadir, Eko hanya menjual kopi kepada pembeli di sekitar rumahnya.
Penjualannya saat itu berkisar tiga hingga lima kilogram kopi per hari. Penghasilan Eko dari penjualan tersebut mencapai sekitar Rp600.000 per hari.
“Sebelum ada KDKMP, cuma laku ya 3-5 kg lah per hari, penghasilannya ya cuma Rp600.000 per hari,” kata Eko.
Setelah KDKMP berdiri, penjualan kopi Eko meningkat menjadi sekitar tujuh kilogram setiap hari. Penghasilannya juga meningkat hingga mencapai Rp1,5 juta per hari.
“Sejak ada KDKMP, ada kenaikan penjualan, jadi 7 kg per hari, bahkan juga sempat ada permintaan dari Australia,” kata Eko.
Menurut Eko, kopi yang dijualnya berasal dari petani di kawasan Pegunungan Sitata. Potensi tersebut sejalan dengan kondisi Kecamatan Susukan yang memiliki sektor pertanian cukup kuat.
Kesuburan lahan, curah hujan, serta ekosistem beragam mendukung aktivitas pertanian masyarakat. Komoditas yang berkembang meliputi padi, sayuran, hortikultura, kopi, dan teh.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banjarnegara mencatat kopi menjadi tanaman perkebunan yang dominan. Pada 2023, jumlah tanaman kopi di Banjarnegara mencapai 3,92 juta pohon. Jumlah tersebut setara 79 persen dari total tanaman perkebunan di Banjarnegara.
Susukan menjadi salah satu sentra kopi dengan luas lahan perkebunan mencapai 31,24 hektare.
Modal Rp18 Juta, Keuntungan KDMP Capai Rp625 Juta
Kepala KDKMP Desa Panerusan Wetan Adi Wibowo mengatakan koperasi mendapat sambutan positif masyarakat. Petani dan pelaku UMKM menjadi kelompok yang merasakan langsung manfaat keberadaan koperasi tersebut.
“Kehadiran KDKMP sangat membantu masyarakat di desa kami. Para petani kini tak perlu jauh-jauh ke Pasar Purwareja Klampok untuk mendapatkan pupuk, begitu juga masyarakat lainnya, kini sudah bisa membeli beras, gas elpiji dekat dengan rumahnya,” kata Adi.
Adi menjelaskan KDKMP Desa Panerusan Wetan mulai dibentuk pada 17 Agustus 2025.
Saat awal berdiri, modal yang disiapkan mencapai Rp18 juta. Pada November 2025, koperasi tersebut telah memperoleh keuntungan sekitar Rp200 juta. Setelah berjalan selama setahun, keuntungan KDMP meningkat hingga mencapai Rp625 juta.
“Modal awal di 17 Agustus tahun lalu, itu sekitar Rp18 juta, sekarang sudah mendapatkan keuntungan hingga Rp625 juta,” terang Adi.
Pertumbuhan koperasi juga terlihat dari jumlah anggotanya yang terus bertambah. Pada tahun pertama, KDKMP Desa Panerusan Wetan memiliki 314 anggota. Kini, jumlah anggota aktif telah meningkat menjadi 525 orang. Anggota tersebut berasal dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk petani dan pelaku UMKM.
“Alhamdulillah, kepercayaan itu masih terjadi hingga kini, sekarang KDKMP di sini anggotanya sudah mencapai 525, termasuk para petani dan UMKM,” ujarnya.
Koperasi Dorong Ekonomi Desa
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara Hendro Cahyono menilai koperasi memiliki nilai strategis bagi masyarakat.
Menurutnya, koperasi dapat menghidupkan kembali semangat kekeluargaan dan gotong royong. Selain itu, koperasi dinilai mampu memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat desa.
“Koperasi dapat menjadi wadah untuk menghidupkan kembali semangat tersebut sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Banjarnegara memiliki 20 kecamatan dengan potensi ekonomi yang berbeda-beda. Potensi tersebut meliputi sayuran, kopi, peternakan, serta berbagai komoditas pertanian lainnya.
Perkembangan teknologi juga mendorong koperasi memanfaatkan digitalisasi dalam aktivitas ekonomi. Penjualan produk koperasi kini tidak selalu harus dilakukan secara langsung.
Sejumlah KDKMP bahkan mulai memanfaatkan penjualan secara daring untuk memperluas jangkauan pasar.
“Jadi (koperasi) tidak hanya menampung dan menampung ini kan sekarang bisa virtual dalam arti tidak barangnya di situ bisa membangun dengan digital dengan nya penjualan online sekarang sudah sudah mulai ada. Jadi digitalisasi juga kita manfaatkan untuk membangun koperasi itu.” Imbuhnya.
Data BPS menunjukkan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penopang ekonomi Banjarnegara. Sektor tersebut konsisten menopang struktur perekonomian Banjarnegara selama periode 2021-2025.
Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Banjarnegara mencapai lebih dari 27 persen. Perekonomian Banjarnegara juga tumbuh 5,26 persen pada 2025. Pertumbuhan tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Kehadiran KDKMP Panerusan Wetan menunjukkan koperasi dapat berperan lebih luas dari sekadar tempat transaksi.
Koperasi juga dapat menjadi penghubung antara produksi, distribusi, dan pemasaran produk masyarakat.
Bagi petani, kemudahan mendapatkan pupuk dapat membantu menekan biaya dan memperlancar kegiatan produksi. Sementara bagi UMKM, koperasi membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal.
Jika terus dikembangkan, KDMP berpotensi memperkuat rantai ekonomi desa sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. (sbh)

.jpeg)


