Digitalisasi Koperasi Dorong Keterbukaan dan Kepercayaan Anggota

MajalahPIP.com, BALI – Digitalisasi menjadi strategi KPN Rupekes RSUD Buleleng meningkatkan transparansi dan kepercayaan anggota koperasi.
Sistem berbasis web memungkinkan anggota memantau simpanan, pinjaman, dan kekayaan koperasi melalui telepon genggam.
Ketua Pengurus KPN Rupekes RSUD Buleleng, Dewa Made Angga Kusuma Putra, mengatakan transformasi digital terus dikembangkan.
Digitalisasi mulai didorong sejak koperasi kembali diaktifkan pada 2024 setelah sebelumnya vakum akibat pandemi.
Menurut Dewa, sistem digital memungkinkan anggota memantau kondisi keuangan koperasi secara mandiri.
“Dengan semuanya baik digital, transaksi, perekrutan, peminjaman, jadi semua teman-teman anggota bisa ngecek juga langsung, baik itu kekayaannya, sisa pinjamannya berapa. Dengan begitu mendorong teman-teman lebih percaya” ujarnya.
Seluruh transaksi dan informasi anggota kini dapat diakses melalui sistem digital. Perubahan data juga menjadi lebih mudah dipantau dan diperiksa oleh pengurus maupun anggota.
Penerapan sistem digital sekaligus mendorong pengurus bekerja secara lebih transparan dan profesional.
“Kita buat digitalisasi semua sekarang berbasis web, jadi bisa dicek via HP semua, baik itu simpanannya, pinjamannya. Memang di awal-awal kita perlu adaptasi, dalam artian untuk melatih SDM supaya profesional dan transparan” katanya.
Digitalisasi juga memudahkan anggota melakukan simulasi pinjaman tanpa datang langsung ke kantor koperasi. Anggota dapat memantau sisa pinjaman melalui sistem yang tersedia secara daring.
Saat ini, KPN Rupekes RSUD Buleleng memiliki sekitar 600 anggota. Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah secara bertahap melalui pengembangan koperasi.
Selain digitalisasi, KPN Rupekes mengembangkan sejumlah unit usaha untuk memperkuat kegiatan ekonominya. Unit usaha tersebut meliputi Waserda, ritel makanan dan minuman, ATK dan konveksi, serta lahan parkir.
Dari empat unit usaha yang dikembangkan, tiga unit telah mulai menghasilkan Sisa Hasil Usaha (SHU).
Namun, penerapan digitalisasi masih menghadapi tantangan dalam adaptasi sumber daya manusia. Tantangan tersebut terutama dirasakan anggota yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital.
Pengurus kemudian melakukan sosialisasi dan memberikan pelayanan langsung kepada anggota. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu anggota yang mengalami kesulitan menggunakan sistem digital.
Dengan transformasi tersebut, KPN Rupekes berupaya membangun tata kelola koperasi yang semakin transparan dan profesional. (MajalahPIP)

.jpeg)


