12 Tokoh yang Membentuk Perjalanan Ekonomi Indonesia

Bapak Koperasi Indonesia, Mohammad Hatta (Foto: Istimewa)

MajalahPIP.com – Perjalanan ekonomi Indonesia tidak lepas dari pemikiran dan kebijakan para tokoh lintas generasi. Mereka hadir dengan gagasan berbeda untuk menjawab persoalan ekonomi pada setiap zamannya.

Mulai dari koperasi, moneter, perdagangan, hingga ekonomi kerakyatan menjadi bagian dari pemikiran tersebut.

Mohammad Hatta, misalnya, dikenal melalui gagasan ekonomi kerakyatan dan koperasi. Sementara itu, Sjafruddin Prawiranegara memiliki jejak penting dalam kebijakan keuangan dan moneter.

Soemitro Djojohadikusumo dikenal melalui Gerakan Benteng untuk memperkuat pengusaha pribumi. Adapun Mubyarto mengembangkan konsep Ekonomi Pancasila sebagai gagasan ekonomi yang sesuai karakter Indonesia.

 

Selain itu, para teknokrat seperti Radius Prawiro dan Rachmat Saleh turut berperan dalam pengelolaan ekonomi nasional.

Berikut 12 tokoh yang memiliki jejak penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia.

1. Mohammad Hatta

Mohammad Hatta dikenal sebagai Wakil Presiden pertama sekaligus salah satu Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Ia juga menjadi salah satu pemikir ekonomi yang lekat dengan gagasan ekonomi kerakyatan dan koperasi.

Ketertarikan Hatta terhadap ekonomi berkembang sejak masa mudanya di Belanda. Saat bergabung dengan Perhimpunan Indonesia, Hatta dipercaya menjadi bendahara pada 1922. Ia kemudian menjadi ketua organisasi tersebut pada 1925.

Pada 1926, Hatta menyampaikan pidato berjudul Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen. Pidato tersebut membahas struktur ekonomi dunia dan pertentangan kekuasaan. Hatta menyampaikannya dengan landasan kebijakan non-kooperatif.

Pemikirannya kemudian berkembang melalui kajian terhadap koperasi di berbagai negara. Ia bahkan mempelajari praktik koperasi di Denmark.

Hatta memandang koperasi sebagai bentuk ekonomi gotong royong. Konsep tersebut menekankan pemerataan kerja dan pembagian hasil. Pemikiran itu membuat Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

2. Sjafruddin Prawiranegara

Sjafruddin Prawiranegara memiliki jejak kuat dalam bidang keuangan dan moneter Indonesia. Ia menjadi salah satu tokoh yang mendorong penerbitan Oeang Republik Indonesia (ORI).

ORI diterbitkan pada 17 Oktober 1945 sebagai mata uang Republik Indonesia. Penerbitan ORI menjadi bagian penting dalam menunjukkan kedaulatan Republik. Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan upaya menata ekonomi yang dilanda inflasi.

Perannya dalam bidang moneter berlanjut pada awal 1950-an. Sjafruddin kemudian dikenal melalui kebijakan Gunting Sjafruddin.

Kebijakan tersebut merupakan sanering atau pemotongan nilai uang. Tujuannya untuk mengurangi jumlah uang yang beredar.

Sjafruddin juga pernah menjadi Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia pertama.

Di luar kebijakan moneter, ia dikenal sebagai pemikir ekonomi Islam. Dalam tulisannya Hakikat Ekonomi Islam, ia membahas aspek moral dalam kegiatan ekonomi. Menurutnya, ekonomi Islam tidak sekadar berbicara mengenai larangan riba.

3. Soemitro Djojohadikusumo

Soemitro Djojohadikusumo merupakan ekonom yang terlibat dalam perumusan kebijakan ekonomi Indonesia. Ia meraih gelar doktor dari Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam pada 1943. Disertasinya berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie atau Kredit Rakyat di Masa Depresi.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1946, Soemitro menjadi staf Perdana Menteri Sutan Syahrir. Ia kemudian dipercaya menjadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian. Jabatan tersebut diembannya pada Kabinet Natsir.

Salah satu gagasannya yang terkenal adalah Gerakan Benteng. Program tersebut bertujuan memperkuat pengusaha pribumi. Pemerintah memberikan keistimewaan kepada importir pribumi. Selain itu, pengusaha juga memperoleh akses kredit modal.

Kebijakan tersebut ditujukan bagi pengusaha yang kesulitan memperoleh pembiayaan. Sekitar 700 perusahaan mendapat bantuan selama sekitar tiga tahun pelaksanaan.

Namun, program tersebut menghadapi berbagai persoalan. Sebagian pengusaha pribumi diduga hanya menjadi perantara pengusaha nonpribumi. Mereka digunakan untuk memperoleh kredit dari pemerintah.

Gerakan Benteng akhirnya dihentikan karena tidak mencapai tujuan yang diharapkan.

4. Kaharuddin Yunus

Kaharuddin Yunus menjadi salah satu tokoh pemikiran ekonomi Islam. Ia membawa gagasan tersebut dalam perdebatan ekonomi Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Yunus lahir di Sulit Air, Sumatra Barat. Ia memperoleh gelar BA dalam ilmu dagang dari Universitas Al-Azhar, Kairo, pada 1943.

Pada 1945-1946, Yunus terlibat dalam Komite untuk Kemerdekaan Indonesia. Keterlibatannya berlangsung melalui cabang organisasi tersebut di Timur Tengah.

Gagasannya kemudian dituangkan dalam karya Sistem Ekonomi Menurut Islam (Bersamaisme). Karya tersebut terdiri dari dua jilid.

Yunus menawarkan pendekatan ekonomi yang berangkat dari pemikiran Islam. Saat itu, perdebatan ekonomi Indonesia banyak dipengaruhi kapitalisme dan sosialisme.

5. Raden Bei Aria Wirjaatmadja

Raden Bei Aria Wirjaatmadja memiliki perhatian terhadap persoalan pembiayaan masyarakat kecil. Perhatian tersebut muncul jauh sebelum sistem perbankan nasional terbentuk seperti sekarang.

Saat mengelola kas masjid di Purwokerto, ia melihat persoalan guru. Para guru terpaksa meminjam uang kepada rentenir untuk memenuhi kebutuhan.

Kondisi tersebut mendorong Wirjaatmadja memanfaatkan dana yang tersedia. Dana tersebut kemudian digunakan sebagai sarana pinjaman bagi masyarakat.

Pada 16 Desember 1895, Wirjaatmadja membentuk sebuah lembaga bersama sejumlah tokoh. Lembaga itu bernama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden. Lembaga tersebut kemudian mengalami berbagai perubahan. Perkembangannya menjadi cikal bakal Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Peran Wirjaatmadja menunjukkan pentingnya pembiayaan rakyat dalam sejarah ekonomi Indonesia.

6. Frans Seda

Indonesia menghadapi persoalan ekonomi berat pada pertengahan 1960-an. Inflasi pada periode tersebut bahkan disebut mencapai sekitar 650 persen.

Dalam kondisi itu, Frans Seda dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada 1966-1968. Ia berupaya menata kembali keuangan negara. Salah satunya melalui penerapan kesatuan penganggaran pemerintah di Kementerian Keuangan. Ia juga menerapkan model anggaran penerimaan dan belanja yang berimbang.

Pada masa jabatannya, inflasi berhasil ditekan. Angka inflasi yang sebelumnya mencapai 650 persen turun menjadi sekitar 120 persen.

Peran Frans Seda menunjukkan pentingnya stabilitas dalam pengelolaan ekonomi nasional.

7. Loekman Hakim

Loekman Hakim memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan keuangan negara.

Pada masa awal Republik, ia pernah menjadi Inspektur Keuangan. Ia juga menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Pusat.

Selain itu, Loekman pernah menjadi Komisaris Keuangan untuk Sumatra. Ia kemudian dipercaya menjadi Direktur Javasche Bank.

Dalam pemerintahan, Loekman pernah menjadi Wakil Menteri Keuangan. Jabatan tersebut dijalankan dalam Kabinet Sjahrir II.

Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan sekaligus Menteri Kehakiman ad interim. Jabatan tersebut dijalankan pada masa Republik Indonesia Darurat.

Pengalamannya kemudian berkembang hingga tingkat internasional. Loekman tercatat pernah menjadi Direktur Bank Dunia atau World Bank. Ia juga pernah menjadi Direktur Dana Moneter Internasional atau IMF.

8. Mr. Assaat

Mr. Assaat merupakan tokoh politik yang turut terlibat dalam kebijakan ekonomi. Perhatiannya terutama tertuju pada upaya memperkuat pengusaha pribumi.

Pada 1956, ia memelopori Gerakan Assaat. Program tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas pengusaha pribumi. Gerakan itu juga bertujuan melindungi mereka dari dominasi ekonomi asing.

Selain itu, kebijakan tersebut menyasar pengusaha keturunan China. Namun, Gerakan Assaat kemudian menimbulkan persoalan diskriminasi terhadap keturunan China.

Ketegangan yang muncul ikut membuat gerakan tersebut tidak bertahan. Gerakan Assaat menjadi contoh konsekuensi sosial kebijakan afirmatif ekonomi.

9. Mubyarto

Mubyarto hadir dalam fase berbeda dari para tokoh ekonomi generasi awal Republik.

Ia dikenal sebagai salah satu pemikir yang mengembangkan konsep Ekonomi Pancasila. Gagasan tersebut menempatkan Pancasila sebagai landasan sistem perekonomian Indonesia.

Dalam praktiknya, konsep tersebut kerap digambarkan sebagai ekonomi pasar. Namun, mekanisme pasar tersebut disertai pengendalian pemerintah.

Mubyarto juga mengembangkan gagasan ekonomi kerakyatan. Ia menekankan kepemilikan dan akses masyarakat terhadap sumber daya. Pembagian hasil usaha yang lebih berkeadilan juga menjadi perhatian.

Pemikirannya kemudian menjadi salah satu rujukan dalam pembahasan ekonomi Indonesia.

10. Radius Prawiro

Radius Prawiro merupakan ekonom sekaligus teknokrat yang memiliki perjalanan panjang. Ia memiliki pengalaman dalam berbagai posisi strategis pemerintahan.

Radius pernah menjadi anggota Tim Ahli Ekonomi Presiden. Ia juga menjadi Ketua Dewan Gubernur Bank Dunia (IBRD) pada 1971-1973. Setelah itu, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi penting.

Radius menjadi Menteri Perdagangan pada 1973-1983. Ia kemudian menjabat Menteri Keuangan pada 1983-1988.

Setelah itu, Radius menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri. Ia juga menangani Pengawasan Pembangunan hingga 1993.

Perjalanan kariernya menunjukkan besarnya peran teknokrat dalam ekonomi era pembangunan.

11. Rachmat Saleh

Rachmat Saleh merupakan salah satu teknokrat penting dalam sistem ekonomi Indonesia. Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).

Rachmat memulai karier di Bank Indonesia pada 1956. Saat itu, ia menjadi staf umum Bagian Ekonomi Statistik. Kariernya kemudian berkembang hingga menduduki posisi strategis.

Rachmat dipercaya menjadi Gubernur Bank Indonesia pada 1973-1983. Ia kemudian menjadi Menteri Perdagangan pada 1983-1988.

Sebelumnya, Rachmat sempat ditempatkan di Reserve Bank of India. Ia juga menjalankan sejumlah tugas sebagai perwakilan Indonesia di luar negeri.

Pengalamannya mencakup sektor moneter dan perdagangan. Kedua sektor tersebut menjadi bagian penting dalam pengelolaan ekonomi nasional.

12. Abdul Kadir

Abdul Kadir merupakan tokoh yang hidup jauh sebelum sebagian besar nama dalam daftar ini. Ia hidup pada masa kolonial dan dikenal sebagai tokoh dari Melawi, Kalimantan Barat.

Pada 1845, Abdul Kadir diangkat menjadi Kepala Pemerintahan Melawi. Wilayah tersebut merupakan bagian dari Kerajaan Sintang. Ia kemudian mendapat gelar Raden Temenggung.

Abdul Kadir berupaya mengembangkan potensi ekonomi wilayah tersebut. Ia juga berusaha mempersatukan masyarakat Dayak dan Melayu.

Selain itu, ia melakukan perlawanan terhadap upaya Belanda menguasai wilayah. Atas perjuangannya, Abdul Kadir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1999.

Jejak 12 tokoh tersebut memperlihatkan beragam pendekatan dalam membangun ekonomi Indonesia. Gagasannya mencakup koperasi, pembiayaan rakyat, moneter, perdagangan, hingga ekonomi kerakyatan.

Sebagian tokoh berfokus pada penguatan masyarakat kecil dan pengusaha pribumi. Tokoh lainnya berperan dalam menjaga stabilitas keuangan dan merumuskan kebijakan ekonomi.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia dibentuk melalui pemikiran lintas generasi.

Setiap tokoh menghadirkan gagasan sesuai tantangan ekonomi pada masanya. Pemikiran mereka kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang ekonomi nasional. (MajalahPIP)