Koperasi Desa Merah Putih: Modal Besar Saja Tidak Cukup

PROGRAM Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) merupakan salah satu agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun ekonomi dari desa. Dengan jumlah koperasi yang sangat besar dan dukungan pembiayaan pemerintah, program ini memiliki potensi menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.
Di balik itu, ada satu pertanyaan fundamental yang perlu dijawab: apakah modal yang besar dan infrastruktur yang lengkap dengan sendirinya akan membuat koperasi berhasil? Jawabannya belum tentu.
Koperasi dapat memiliki gedung, gudang, kendaraan, toko, modal kerja, bahkan akses pembiayaan. Hanya saja, apabila anggota tidak aktif melakukan transaksi ekonomi melalui koperasi, semua fasilitas tersebut berisiko menjadi aset tidak produktif.
Karena itu, tantangan terbesar KDKMP sesungguhnya bukan hanya bagaimana membangun koperasi, tetapi bagaimana membuat koperasi hidup dan terus tumbuh dari aktivitas ekonominya sendiri.
Di sinilah saya menawarkan sebuah pendekatan yang saya kembangkan, yaitu Snowball Business Model (SBM).
Koperasi Harus Berputar
Prinsip SBM sangat sederhana. Anggota koperasi tidak boleh hanya diposisikan sebagai pemilik secara administratif. Anggota harus menjadi bagian aktif dari mesin ekonomi koperasi.
Ada tiga peran utama yang harus dimainkan setiap anggota. Pertama, anggota sebagai produsen. Petani, peternak, nelayan, perajin, dan pelaku UMKM merupakan sumber produksi ekonomi desa. Produk mereka harus dapat diagregasi oleh koperasi, kemudian dipasarkan dengan skala ekonomi yang lebih besar.
Koperasi tidak sekadar menjadi tempat membeli barang dari luar desa. Koperasi harus menjadi off-taker dan agregator produk anggota. Dengan demikian, koperasi memberikan kepastian pasar, sekaligus meningkatkan posisi tawar produsen.
Kedua, anggota sebagai konsumen. Anggota juga merupakan pasar utama koperasi. Kebutuhan sehari-hari, sarana produksi pertanian, berbagai kebutuhan rumah tangga, hingga layanan ekonomi lainnya sedapat mungkin dipenuhi melalui koperasi.
Ketika anggota membeli dari koperasi, uang tidak langsung keluar dari ekosistem desa. Uang tersebut berputar kembali untuk membeli produk anggota, membayar jasa, membiayai operasional, dan mengembangkan usaha koperasi.
Ketiga, anggota sebagai promotor. Peran ini sering kali dilupakan. Anggota harus menjadi orang pertama yang memperkenalkan produk dan layanan koperasinya. Mereka mengajak masyarakat menjadi anggota, memperluas pasar, dan membangun reputasi koperasi.
Dengan demikian, pertumbuhan koperasi tidak hanya bergantung pada biaya promosi dari pengelola, tetapi tumbuh melalui jaringan sosial anggotanya.
Ketiga peran tersebut membentuk sebuah siklus yang terus berulang. Itulah efek bola salju. Bola salju tidak menjadi besar karena satu kali didorong. Ia menjadi besar karena terus bergerak.
Komitmen dan Kepercayaan
SBM memiliki dua fondasi utama: komitmen dan kepercayaan.
Komitmen berarti anggota benar-benar bersedia menjalankan aktivitas ekonomi melalui koperasi.
Petani berkomitmen memasok produk. Anggota berkomitmen menjadi konsumen. Anggota juga berkomitmen mempromosikan koperasinya. Tanpa komitmen, transaksi akan bocor keluar.
Sementara itu, kepercayaan merupakan modal sosial yang jauh lebih penting daripada sekadar modal finansial. Anggota harus percaya bahwa koperasi dikelola secara profesional, transparan, adil, dan memberikan manfaat nyata.
Sebaliknya, pengurus harus percaya bahwa anggota akan menjalankan komitmennya. Dengan demikian, modal kepercayaan menjadi fondasi bagi pertumbuhan modal finansial.
Mengukur Keberhasilan
Keberhasilan KDKMP tidak seharusnya hanya diukur dari berapa koperasi yang telah dibentuk atau berapa besar modal yang telah disalurkan.
Indikator yang jauh lebih penting adalah aktivitas ekonominya. Berapa banyak anggota yang benar-benar aktif? Berapa besar produk anggota yang diserap koperasi?
Berapa besar kebutuhan anggota yang dipenuhi koperasi? Berapa besar omzet koperasi? Berapa kali modal berputar? Berapa besar nilai tambah yang tinggal di desa? Kemudian, yang paling penting: apakah pendapatan anggota meningkat?
Jika indikator-indikator tersebut meningkat, berarti koperasi benar-benar hidup.
Sebaliknya, jika gedung berdiri tetapi transaksi minim, kita perlu berani mengatakan bahwa koperasi tersebut belum menjadi mesin ekonomi.
Model Tepat
Dukungan modal pemerintah tentu penting, tetapi modal hanyalah bahan bakar, bukan mesin.
Mesin tetap membutuhkan model bisnis, pasar, manusia, tata kelola, dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Bahkan, modal yang besar dapat menjadi beban apabila tidak menghasilkan perputaran uang yang sehat.
Karena itu, saya melihat KDKMP perlu memasuki tahap berikutnya: dari pembangunan kelembagaan menuju pembangunan ekosistem bisnis anggota.
Koperasi jangan hanya menjadi tempat menyalurkan modal. Koperasi harus menjadi tempat modal tersebut berputar dan menghasilkan nilai tambah.
Mengapa SBM layak Diuji? Bahasan ini tidak mengusulkan agar seluruh KDKMP langsung menggunakan SBM. Pendekatan yang lebih ilmiah adalah melakukan proyek percontohan.
Pilih beberapa KDKMP di wilayah yang memiliki karakteristik berbeda. Terapkan prinsip SBM selama enam sampai 12 bulan dan ukur hasilnya. Bandingkan dengan koperasi yang menggunakan pola pengelolaan konvensional.
Indikatornya dapat meliputi: pertumbuhan anggota aktif, volume transaksi, penyerapan produk anggota, pembelian anggota, pertumbuhan omzet, perputaran modal, pertumbuhan pendapatan anggota, serta tingkat kepercayaan anggota. Jika hasilnya positif dan konsisten, model tersebut dapat dikembangkan dan direplikasi.
Dengan skala KDKMP yang sangat besar, bahkan peningkatan kecil pada aktivitas ekonomi setiap koperasi dapat menghasilkan dampak agregat yang luar biasa terhadap perekonomian nasional.
Mesin Ekonomi Desa
Presiden Prabowo memiliki visi agar Koperasi Merah Putih menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat desa. Visi tersebut sangat strategis, namun kita harus memastikan bahwa KDKMP tidak berhenti sebagai proyek kelembagaan. KDKMP harus menjadi gerakan ekonomi masyarakat. Sementara itu, gerakan ekonomi hanya akan hidup apabila manusia yang berada di dalamnya bergerak.
Karena itu, formulanya sederhana. Anggota koperasi adalah produsen, sekaligus konsumen dan promotor, dengan fondasi komitmen dan kepercayaan. Kemudian aktivitas tersebut diputar terus-menerus.
Sebuah Tawaran
Koperasi Desa Merah Putih adalah program yang terlalu strategis untuk hanya mengandalkan pendekatan administratif. Ia membutuhkan inovasi model bisnis yang dapat diuji, diukur, dan diperbaiki berdasarkan data.
Karena itu, Snowball Business Model bisa menjadi salah satu alternatif model pengembangan KDKMP. Dari gagasan tersebut kita bisa membuat rancangan model, pendampingan, dan melakukan proyek percontohan SBM apabila pemerintah memberikan ruang untuk mengujinya.
Saya percaya bahwa gagasan ekonomi kerakyatan harus dibuktikan di lapangan, bukan berhenti sebagai konsep.
Koperasi Merah Putih jangan hanya menjadi koperasi yang didirikan di desa. Koperasi Merah Putih harus menjadi ekonomi desa yang hidup.
Sebab ketika bola salju mulai bergerak dari satu anggota, kemudian ke satu koperasi, dari satu desa ke ribuan desa, dan akhirnya menjadi gerakan ekonomi nasional, kita bukan sekadar sedang membangun koperasi. Kita sedang membangun mesin ekonomi kerakyatan Indonesia.
Penulis: Prof Dr Nandan Limakrisna, penggagas Snowball Business Model (SBM)
Dikutip dari: ANTARA

.jpeg)


