Budaya Gotong Royong Lewat Koperasi Ciptakan Ekonomi Kerakyatan

Ketua Umum Gerakan Kebudayaan Tradisi Nusantara (GUNTUR), Teguh Eko Prastyono menyebut budaya gotong royong yang tercermin dalam koperasi menjadi salah satu kekuatan untuk meningkatkan perekonomian rakyat Indonesia. (Foto: Dok Gus TEP)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Budaya gotong royong dinilai menjadi salah satu kekuatan utama masyarakat Nusantara. Nilai tersebut juga tercermin dalam semangat berkoperasi.

Ketua Umum Gerakan Kebudayaan Tradisi Nusantara (GUNTUR), Teguh Eko Prastyono, mengatakan budaya Nusantara memiliki kekayaan yang sangat luas.

Menurut Eko, budaya Nusantara tidak hanya berkaitan dengan kesenian. Budaya juga mencakup adat istiadat dan bahasa yang berkembang di berbagai daerah.

“Budaya gotong royong itu tercermin di koperasi. Koperasi merupakan salah satu bentuk nyata kebersamaan masyarakat,” kata Eko di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

 

Ia menilai semangat gotong royong perlu terus diperkuat di tengah perkembangan zaman. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat.

Gus TEP, panggilan akrabnya, mengatakan gerakan budaya harus mampu menjembatani tradisi dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Pelestarian budaya, menurut dia, tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan kesenian. Adat istiadat dan bahasa daerah juga perlu mendapat ruang dalam kehidupan masyarakat.

GUNTUR mendorong masyarakat untuk mengenali kembali berbagai tradisi yang menjadi identitas daerah. Upaya tersebut dinilai penting agar budaya Nusantara tidak kehilangan akar di tengah perubahan zaman.

Menurut Eko, koperasi dan gerakan budaya memiliki titik temu pada semangat kebersamaan. Keduanya dapat berkembang ketika masyarakat memiliki kepedulian dan kemauan untuk bekerja bersama.

“Budaya Nusantara itu meliputi kesenian, adat istiadat, dan bahasa. Semuanya merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama,” ujar Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) ini.

Ia berharap gerakan budaya dapat menjadi ruang untuk memperkuat persatuan masyarakat. Nilai gotong royong juga diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

Semangat tersebut perlu diwujudkan dalam berbagai aktivitas sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Dengan demikian, budaya Nusantara tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya. (sbh)