BI Dorong Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi

Majalah.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mendorong pembiayaan syariah menjadi pilihan strategis bagi investasi dan ekspansi dunia usaha. Langkah tersebut dilakukan dengan memperkuat keterhubungan industri halal dan industri keuangan syariah nasional.
Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan pembiayaan syariah harus semakin kompetitif. Menurutnya, penguatan tersebut membutuhkan pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan.
“Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan, diperkuat pendalaman pasar keuangan syariah dan intermediasi, serta kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian/lembaga, dan asosiasi,” ujar Destry dalam Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi bertema “Unlocking Corporate Growth Through Sharia Finance” di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Pembiayaan Syariah Tumbuh 11,43 Persen
Data BI menunjukkan pembiayaan perbankan syariah terus mengalami pertumbuhan. Pada Juni 2026, pembiayaan mencapai Rp720 triliun.
Angka tersebut tumbuh 11,43 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp816 triliun. DPK tersebut tumbuh 13,13 persen secara tahunan. Pertumbuhan juga terlihat pada rantai pasok halal yang mencapai 5,5 persen.
Sementara itu, outstanding sukuk korporasi tercatat sekitar Rp95 triliun. Data tersebut menunjukkan ruang pengembangan pembiayaan syariah masih terbuka.
BI Dorong Inovasi Instrumen Pembiayaan
Destry menekankan pentingnya memperluas kapasitas dan inovasi instrumen pembiayaan syariah. Penguatan tata kelola dan manajemen risiko juga dinilai penting.
Selain itu, pemantauan pembiayaan perlu diperkuat untuk mendukung pertumbuhan sektor korporasi. Penyaluran pembiayaan juga harus mampu memberikan dampak terhadap sektor riil.
Menurut Destry, langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat pembiayaan korporasi. Upaya itu juga memastikan pembiayaan tersalurkan secara tepat dan berkelanjutan.
BI bersama pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi melalui berbagai program. Program tersebut mencakup Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia.
Destry berharap kolaborasi tersebut memperluas akses pembiayaan syariah bagi dunia usaha. Pembiayaan syariah juga diharapkan mendukung investasi dan ekspansi korporasi.
Pembiayaan Jangka Panjang Dibutuhkan
Kepala Badan Ekonomi Syariah Kadin Indonesia, Titi Khoiriah, menyoroti kebutuhan pembiayaan syariah jangka panjang. Menurutnya, ekspansi korporasi membutuhkan skema dan tenor pembiayaan yang sesuai. Kebutuhan tersebut penting untuk mendukung keberlanjutan investasi dunia usaha.
Sementara itu, Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo sekaligus Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Bob Tyasika Ananta, menekankan pendekatan berbasis ekosistem.
Pendekatan tersebut menghubungkan korporasi dengan rantai pasok dalam ekosistem usaha. Dengan demikian, perbankan syariah dapat memperluas penyaluran pembiayaan.
Pembiayaan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja korporasi. Hubungan antara bank dan dunia usaha juga dapat dibangun secara jangka panjang. (sbh)

.jpeg)


