Bocoran untuk Pebisnis: Konsumen Usia 40 Tahun Punya Daya Beli

Hakuhodo menilai konsumen usia 40 tahun ke atas berpotensi menjadi pasar baru karena aktif, konsumtif, dan mengikuti teknologi. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Kelompok usia di atas 40 tahun dinilai berpotensi menjadi pasar baru yang selama ini kurang diperhatikan brand.

Meski memasuki usia matang, kelompok ini tetap aktif mengembangkan diri dan mengikuti perkembangan teknologi.

Hakuhodo menyebut kelompok tersebut sebagai Prime Generation dalam ASEAN Sei-Katsu-Sha Forum 2026. Kelompok itu mencakup generasi Milenial, Gen X, hingga Baby Boomer.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), usia di atas 40 tahun mencakup 38,2 persen populasi Indonesia. Besarnya proporsi tersebut menunjukkan potensi ekonomi yang besar sebagai kelompok konsumen.

 

Group CEO Hakuhodo International Indonesia Devi Attamimi mengatakan segmen usia matang mulai menjadi peluang pasar.

“Segmen ini tidak lagi dapat dilihat hanya dari faktor usia, tetapi juga dari semakin kuatnya kejelasan dalam menjalani hidup, kepercayaan diri, dan pengaruh yang mereka miliki,” ujar Devi dalam ASEAN Sei-Katsu-Sha Forum 2026, Kamis (3/9/2026).

Senior Director of Strategy & Head of Sei-katsu-sha Lab Hakuhodo Rian Prabana mengatakan usia matang tidak identik dengan penurunan aktivitas.

“Alih-alih memasuki fase penurunan, mereka justru berada di masa puncak hidupnya. Selama ini, mereka kerap dipandang hanya melalui kacamata usia, padahal mereka masih punya pengaruh dan masih sangat berdaya,” tutur Rian.

Mulai Memprioritaskan Diri Sendiri

Perubahan gaya hidup menjadi salah satu karakter yang terlihat pada kelompok usia tersebut. Mereka tidak lagi hanya berorientasi pada peran dalam keluarga. Sebagian mulai memberikan ruang lebih besar untuk mengejar pengalaman dan keinginan pribadi.

Sebanyak 47,1 persen responden berusia di atas 40 tahun masih ingin mengalami lebih banyak hal dalam hidup. Sementara itu, 73 persen responden ingin tetap aktif secara fisik maupun mental.

Strategic Planning Manager Hakuhodo Sanu Pratomo mengatakan kelompok usia matang justru semakin menikmati kehidupan.

“Kalau kita bicara tentang mereka yang mulai memasuki usia jelang 50 tahun, biasanya kita membayangkan hidupnya sudah mulai mapan. Tapi tahu enggak kalau ternyata mereka justru semakin sering memaksimalkan hidup mereka,” ujar Sanu.

Menurut Sanu, kelompok tersebut merasa memiliki lebih banyak waktu dan uang dibandingkan satu dekade sebelumnya. Namun, sumber daya tersebut tidak selalu dialokasikan untuk kebutuhan keluarga.

“Banyak dari mereka justru ingin memfokuskan pengeluarannya itu untuk diri mereka sendiri,” katanya.

Pola konsumsi kelompok tersebut juga menunjukkan kecenderungan serupa. Sebanyak 51,1 persen responden berusia di atas 40 tahun menggunakan uang untuk diri sendiri sebagai bentuk self-reward.

Sebanyak 57 persen responden juga menggunakan platform belanja online. Sementara itu, 73,3 persen responden pernah melakukan pembelian melalui live commerce.

Tetap Belajar dan Mengikuti Teknologi

Kelompok usia matang juga menunjukkan keinginan kuat untuk terus mengembangkan diri. Sebanyak 62,4 persen responden Indonesia berusia 40-69 tahun ingin mempelajari keterampilan baru.

Bahkan, 43,5 persen responden berusia di atas 40 tahun menggunakan media sosial untuk memperoleh pengetahuan.

Media sosial juga dimanfaatkan untuk mempelajari berbagai keterampilan baru.

Strategic Planning Manager Hakuhodo Stephanie Anastasia mengatakan keinginan belajar tidak berhenti pada generasi muda.

“Kita tuh selalu terbiasa bahwa yang muda yang belajar. Tapi ternyata di sini kita melihat juga masih belajar,” kata Stephanie.

Menurut Stephanie, kelompok tersebut juga aktif mengeksplorasi perkembangan teknologi. Mereka menggunakan berbagai aplikasi, mengenal kecerdasan buatan atau AI, serta mengikuti perkembangan tren.

Media sosial juga menjadi salah satu sarana untuk mencari informasi dan menambah pengetahuan.

Brand Diminta Melihat Aspirasi

Berbagai temuan tersebut menunjukkan perlunya perubahan cara brand melihat konsumen usia matang.

Strategic Planner Hakuhodo Agresti Reno mengatakan kelompok tersebut tidak cukup dipahami berdasarkan usia.

Peran dalam keluarga juga tidak lagi menjadi satu-satunya faktor untuk memahami perilaku mereka. Aspirasi personal menjadi bagian penting dalam melihat karakter kelompok tersebut.

“Mereka mau memenuhi hal-hal yang dulu belum mereka berikan untuk dirinya sendiri,” ujar Agresti.

Menurutnya, kelompok tersebut kini memiliki kesempatan mengejar berbagai hal yang sebelumnya belum sempat dilakukan. Karena itu, brand dinilai perlu mengubah cara melihat konsumen usia matang.

“Seperti yang kita lihat sekarang, kita sudah bisa mengenal mereka dari aspirasinya, bukan hanya dari umurnya,” katanya.

Hakuhodo menilai perubahan tersebut menjadi peluang bagi brand untuk menjangkau konsumen yang selama ini cenderung terlewatkan.

Pertambahan usia tidak otomatis mengurangi keinginan seseorang untuk berkembang dan mencoba hal baru.

Kelompok Milenial hingga Baby Boomer tetap memiliki aspirasi personal yang kuat. Kemampuan finansial dan keterlibatan mereka dalam ruang digital juga semakin menunjukkan potensi pasar tersebut.

Kondisi itu membuat Prime Generation berpeluang menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi brand. (sbh)