Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3 Persen, Tapi Kredit UMKM Melambat

Ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen, tetapi SME masih tertekan kenaikan bahan baku dan daya beli masyarakat. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas 5 persen belum sepenuhnya dirasakan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Pelaku SME masih menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Temuan tersebut berdasarkan Mandiri Business Survey 2026 yang dilakukan Mandiri Institute.

Survei melibatkan 1.269 pemilik atau manajemen SME di 37 provinsi pada Juni-Juli 2026. Hasil survei menunjukkan omzet usaha masih tumbuh, tetapi lajunya mulai melambat.

 

Mayoritas pelaku usaha kini mencatat pertumbuhan omzet di bawah 5 persen. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas bisnis masih berjalan, tetapi belum mengalami akselerasi yang kuat.

Tekanan itu terjadi ketika ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2026 juga mencapai 5,45 persen.

Bank Mandiri bahkan memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di atas 5,34 persen pada 2026.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan konsumsi masyarakat masih cukup kuat.

Berdasarkan Mandiri Spending Index (MSI), belanja masyarakat tumbuh 6,4 persen pada kuartal I 2026. Pertumbuhan belanja kemudian mencapai 6,1 persen pada kuartal II 2026. Sementara itu, pertumbuhan belanja mencapai sekitar 6 persen hingga 23 Agustus 2026.

“Jadi di kuartal 3 2026 kita masih melihat belanja masyarakat ini tetap resilient. Pertumbuhannya masih relatif stabil,” kata Dian dalam Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Kamis (3/9/2026).

Namun, ketahanan konsumsi tersebut belum berarti seluruh kelompok masyarakat meningkatkan belanja.

Konsumen kini cenderung lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran. Belanja masyarakat juga semakin banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan esensial.

Kondisi itu menjadi tekanan tambahan bagi SME yang menghadapi kenaikan biaya produksi.

Mandiri Business Survey mencatat 22,8 persen pelaku SME mengalami penurunan margin. Penurunan margin terjadi ketika harga bahan baku meningkat bersamaan dengan lemahnya daya beli.

Angka tersebut sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan karakteristik usaha lainnya.

Pada kelompok usaha lainnya, tekanan serupa berada pada kisaran 6-8 persen.

Kenaikan biaya bahan baku juga tidak mudah dialihkan kepada konsumen.

Daya beli yang belum kuat membatasi ruang pelaku usaha untuk menaikkan harga jual. Akibatnya, margin usaha dan pertumbuhan omzet ikut menghadapi tekanan.

Perdagangan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak kondisi tersebut. Sebanyak 53 persen SME dalam kondisi terjepit berasal dari sektor perdagangan. Sebanyak 67 persen beban usaha mereka berasal dari bahan baku, termasuk plastik.

Tekanan tersebut juga membuat pelaku usaha lebih berhati-hati melakukan ekspansi.

Mayoritas SME masih memperkirakan omzet dan margin dapat bertahan hingga akhir 2026. Namun, tingkat optimisme terhadap prospek usaha mulai melemah.

Pelaku usaha cenderung menunda ekspansi, perekrutan tenaga kerja, dan peningkatan kapasitas. Langkah tersebut dilakukan sampai pemulihan ekonomi dirasakan lebih kuat.

Kredit UMKM Melambat

Tekanan juga terlihat dari sisi pembiayaan bagi usaha kecil dan menengah. Dian mengatakan pertumbuhan kredit segmen konsumer dan UMKM relatif mengalami perlambatan.

Kondisi itu terjadi meski pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan masih tinggi.

“Sementara pertumbuhan kredit di segmen consumer dan juga segmen UMKM itu relatif melambat,” ujar Dian.

Menurut dia, kualitas aset juga menunjukkan tekanan pada segmen tersebut. “NPL tertinggi masih dicatat oleh segmen UMKM dan segmen retail,” ujarnya.

Meski demikian, Dian melihat adanya tanda-tanda stabilisasi permintaan domestik.

Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit yang lebih merata.

Pertumbuhan SME Berbeda Antarwilayah

Kinerja SME juga menunjukkan perbedaan berdasarkan wilayah. Pertumbuhan omzet SME secara nasional mencapai 4,9 persen pada semester I 2026.

Sumatra mencatat pertumbuhan omzet tertinggi sebesar 9,7 persen. Sulawesi menyusul dengan pertumbuhan omzet sebesar 5,9 persen. Sementara itu, pertumbuhan omzet SME di Jawa hanya mencapai 3,6 persen.

Posisi usaha dalam rantai pasok juga memengaruhi kemampuan menghadapi tekanan.

SME yang membeli melalui perantara dan menjual langsung kepada konsumen menjadi kelompok paling terhimpit.

Sebaliknya, pelaku usaha yang mampu memotong rantai pasok mencatat pertumbuhan dua hingga tiga kali lebih tinggi.

Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen belum sepenuhnya merata.

Bagi SME, tantangan saat ini bukan sekadar meningkatkan omzet usaha.

Pelaku usaha juga harus menjaga margin ketika biaya bahan baku terus meningkat.

Di sisi lain, konsumen masih cenderung selektif dalam mengalokasikan pengeluarannya. (sbh)