REI Usul, Koperasi Desa Dilibatkan dalam Program 3 Juta Rumah

REI mengusulkan Koperasi Merah Putih mendata rumah yang membutuhkan renovasi agar masuk Program 3 Juta Rumah, sekaligus mendorong penggunaan genteng lokal. (Foto: Chatgpt/MajalahPIP.com/Ilustrasi)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) mengusulkan pemerintah melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dalam mendata rumah yang membutuhkan perbaikan. Data tersebut diharapkan menjadi dasar untuk memasukkan rumah-rumah yang belum layak huni ke dalam Program 3 Juta Rumah.

Wakil Ketua Umum DPP REI Bambang Ekajaya mengatakan, pendekatan pemerintah tidak cukup hanya mengimbau masyarakat mengganti atap rumah yang masih menggunakan seng atau asbes. Menurutnya, diperlukan skema pembiayaan yang mampu membantu masyarakat melakukan renovasi.

“Kalau hanya menyuruh tanpa solusi juga sulit. Yang perlu dilakukan adalah mendata rumah yang memang membutuhkan perbaikan, lalu memasukkannya ke dalam Program 3 Juta Rumah,” ujar Bambang, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan, sekitar dua juta unit dari target Program 3 Juta Rumah dialokasikan untuk renovasi atau perbaikan rumah. Porsi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengganti atap rumah yang masih menggunakan seng maupun asbes.

 

Libatkan Jaringan Koperasi Merah Putih

Bambang menilai jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang telah terbentuk hingga tingkat desa dapat dimanfaatkan untuk melakukan pendataan rumah yang memerlukan penggantian atap.

“Kalau itu di-mix and match dengan Koperasi Merah Putih yang ada di desa-desa, mereka bisa melakukan pendataan rumah mana yang atapnya perlu diganti. Setelah itu bisa dimasukkan ke Program 3 Juta Rumah. Saya rasa itu salah satu solusi yang bijak,” katanya.

Selain melibatkan koperasi, pemerintah juga dinilai dapat bekerja sama dengan produsen genteng lokal. Menurut Bambang, langkah tersebut tidak hanya mempercepat renovasi rumah masyarakat, tetapi juga menggerakkan industri bahan bangunan di daerah.

“Biasanya genteng diproduksi secara lokal. Itu juga bisa meningkatkan potensi bisnis genteng di daerah,” ujarnya.

Genteng Dinilai Paling Realistis

Bambang menilai genteng masih menjadi material penutup atap yang paling realistis untuk perumahan modern, termasuk rumah subsidi. Selain lebih efektif meredam panas, genteng juga lebih mudah diperbaiki karena kerusakan dapat ditangani secara parsial.

Ia mengatakan pengembang saat ini pada umumnya telah meninggalkan penggunaan seng maupun asbes untuk rumah sederhana.

“Kalau untuk rumah sederhana yang sekarang dibangun pengembang, pada dasarnya sudah tidak ada lagi yang menggunakan seng maupun asbes. Semuanya sudah menggunakan genteng,” tuturnya.

Ijuk dan Rumbia Tetap Relevan

Meski demikian, Bambang menilai ijuk dan rumbia masih memiliki fungsi penting untuk rumah adat atau bangunan yang mempertahankan arsitektur tradisional. Namun, ia menganggap penggunaannya sebagai material utama perumahan massal kurang realistis.

Menurutnya, pasokan ijuk dan rumbia kini semakin terbatas sehingga harganya relatif mahal. Selain itu, pemasangannya memerlukan konstruksi berbeda dengan rumah modern yang umumnya menggunakan rangka baja ringan atau aluminium.

“Harganya tidak murah, pasokannya juga sudah terbatas. Sekarang sebagian besar rumah menggunakan rangka aluminium atau baja ringan yang lebih praktis dan berkelanjutan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa atap ijuk dan rumbia membutuhkan perawatan lebih intensif, lebih mudah lapuk, serta memiliki risiko kebakaran yang lebih tinggi.

Meski demikian, material tersebut tetap dapat menjadi pilihan di wilayah yang memiliki pasokan melimpah, seperti sejumlah daerah di Papua dan Kalimantan, karena biaya distribusi genteng ke kawasan tersebut relatif tinggi.

“Untuk daerah yang memang bahan ijuk atau rumbianya tersedia, itu bisa menjadi alternatif. Tetapi untuk perumahan massal, genteng tetap menjadi solusi yang paling realistis,” pungkasnya. (sbh)