JAMKOPNAS 2026 Digelar di UIN Jakarta, Diikuti 36 Kopma se-Indonesia

JAMKOPNAS 2026 digelar di UIN Jakarta pada 4-6 Agustus dengan peserta dari 36 Kopma se-Indonesia. Ajang ini memperkuat inovasi, digitalisasi, dan jejaring koperasi mahasiswa. (Foto: Dok Kopma UIN Jakarta)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Koperasi Mahasiswa (Kopma) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan menjadi tuan rumah Jambore Koperasi Mahasiswa Nasional (JAMKOPNAS) 2026 yang digelar pada 4-6 Agustus 2026. Kegiatan ini akan mempertemukan puluhan koperasi mahasiswa dari berbagai daerah untuk memperkuat inovasi, kolaborasi, dan digitalisasi gerakan koperasi di kalangan generasi muda.

Ketua Umum Kopma UIN Jakarta, Sehan Fathur Rohman, mengatakan peserta mulai berdatangan pada 3 Agustus dan dijadwalkan kembali ke daerah masing-masing pada 7 Agustus 2026.

Sebanyak 45 tim dari 36 Koperasi Mahasiswa se-Indonesia telah mendaftarkan diri mengikuti jambore tersebut. Total peserta mencapai 135 orang, ditambah 34 orang pendamping.

Menurut Sehan, JAMKOPNAS 2026 dirancang tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang peningkatan kapasitas mahasiswa dalam mengembangkan koperasi berbasis inovasi.

 

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan inovasi dan digitalisasi koperasi, melatih berpikir kritis, kreativitas, serta kepemimpinan melalui kompetisi dan forum diskusi,” kata Sehan kepada MajalahPIP.com, Jumat (31/7/2026).

Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat jejaring antar-Koperasi Mahasiswa di Indonesia melalui pertukaran gagasan dan pengalaman pengelolaan koperasi.

“JAMKOPNAS juga menjadi sarana untuk menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya nilai budaya dan keberlanjutan dalam pengelolaan koperasi, sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi kreatif dan kearifan lokal Jakarta sebagai inspirasi pengembangan koperasi mahasiswa,” ujarnya.

Dalam pembukaan kegiatan, panitia menjadwalkan kehadiran sejumlah pejabat nasional dan daerah. Di antaranya Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Bambang Haryadi, Ketua Dekopin Wilayah Banten Hasbi Sidik, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Tangerang Selatan Bachtiar Priyambodo, serta Ketua Dekopin Daerah Kota Tangerang Selatan Alwani.

Kopma Hadapi Tantangan Regenerasi dan Persaingan Usaha

Sehan mengungkapkan, Kopma UIN Jakarta saat ini memiliki 173 anggota aktif dan berstatus sebagai koperasi konsumen yang juga menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) resmi di lingkungan kampus.

Meski demikian, pengembangan koperasi mahasiswa masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah proses kaderisasi yang harus bersaing dengan 18 unit kegiatan mahasiswa lainnya.

Selain itu, dari sisi usaha, Kopma UIN Jakarta juga harus bersaing dengan kantin kampus, koperasi alumni, hingga pedagang di sekitar kampus.

“Kami belum menjadi pusat perdagangan ritel di lingkungan kampus karena universitas juga memiliki pusat bisnis sendiri,” ujar Sehan.

Citra Koperasi Mulai Berubah

Menurut Sehan, persepsi mahasiswa terhadap koperasi mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya koperasi identik dengan tempat meminjam uang, kini semakin banyak mahasiswa yang memahami koperasi sebagai wadah usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya.

“Adanya kebijakan dan perhatian pemerintah membuat mahasiswa semakin mengenal koperasi. Penilaian masyarakat juga mulai berubah karena koperasi bukan hanya tempat simpan pinjam, tetapi juga wadah usaha bersama,” katanya.

Soroti Pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih

Sehan juga menilai program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) merupakan langkah positif untuk menghidupkan kembali budaya berkoperasi di Indonesia.

Namun, ia mengingatkan agar implementasi program dilakukan secara matang dan melibatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang perkoperasian.

“Program ini bagus untuk menghidupkan kembali budaya koperasi. Namun jika pengelolaan dan pengadaannya dilakukan secara impulsif tanpa perencanaan yang jelas, justru berpotensi membuang anggaran negara,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengelola KDKMP sebaiknya berasal dari kalangan yang memiliki latar belakang pendidikan maupun pengalaman di bidang koperasi agar tujuan program dapat tercapai secara optimal.

Kampus Diminta Beri Dukungan Lebih Besar

Sehan berharap perguruan tinggi memberikan dukungan lebih besar kepada koperasi mahasiswa. Menurutnya, kampus memiliki pasar yang jelas, yakni mahasiswa, sehingga Kopma berpeluang menjadi pusat pemenuhan kebutuhan civitas akademika.

“Dukungan kampus menjadi faktor penting. Jika koperasi mahasiswa diberi kepercayaan mengelola berbagai peluang usaha di lingkungan kampus, manfaatnya akan jauh lebih dirasakan oleh mahasiswa sekaligus memperkuat keberlangsungan koperasi,” pungkasnya. (SBH)