Inkoppas Dorong Koperasi Jadi Pengelola Aset Bisnis Pasar

Inkoppas mendorong koperasi pasar mengelola aset bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan pedagang serta menggandeng BTN mempercepat digitalisasi dan akses pembiayaan. (Foto: Istimewa)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Ketua Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Yudianto Tri, mendorong koperasi pedagang pasar di seluruh Indonesia mengambil peran lebih besar dalam mengelola berbagai aset bisnis di kawasan pasar. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat kemandirian koperasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan pedagang sebagai anggota.

Menurut Yudianto, koperasi pasar tidak hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam atau organisasi pedagang. Koperasi juga memiliki peluang besar mengembangkan berbagai unit usaha produktif yang berkaitan langsung dengan aktivitas perdagangan di pasar tradisional.

Ia menilai potensi ekonomi di kawasan pasar masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh koperasi. Karena itu, pengelolaan berbagai layanan penunjang pasar seharusnya dipercayakan kepada koperasi agar manfaat ekonominya kembali kepada para anggota.

“Khususnya untuk koperasi-koperasi pasar di bawah naungan Inkoppas dan Puskoppas perlu didayagunakan,” kata Yudianto kepada MajalahPIP.com, Kamis (6/8/2026).

 

Yudianto menjelaskan, koperasi dapat mengelola berbagai aset maupun layanan operasional pasar sebagai sumber pendapatan baru yang berkelanjutan. Beberapa sektor yang dinilai memiliki potensi besar antara lain jasa perparkiran, keamanan, kebersihan, hingga berbagai layanan pendukung aktivitas perdagangan.

“Misalnya bisnis jasa perparkiran, jasa keamanan, jasa pengelola kebersihan dan bisnis-bisnis lainnya yang menunjang kegiatan perpasaran di masing-masing pasar tersebut,” ujarnya.

Ia meyakini keterlibatan koperasi dalam pengelolaan aset bisnis akan menciptakan nilai tambah bagi organisasi sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi seluruh anggota. Pendapatan dari berbagai unit usaha tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat permodalan koperasi, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mendukung program pemberdayaan pedagang.

Menurutnya, model tersebut sejalan dengan prinsip koperasi sebagai badan usaha milik anggota yang dikelola secara bersama. Semakin banyak unit usaha yang dikelola, semakin besar manfaat ekonomi yang diterima anggota.

Inkoppas minta dukungan pemerintah

Selain mendorong pengembangan usaha, Yudianto meminta pemerintah memperkuat dukungan terhadap gerakan koperasi nasional. Ia menilai koperasi masih menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan daya saing di tengah perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi.

Pemerintah, kata dia, diharapkan tidak hanya menghadirkan regulasi yang mendukung. Dukungan juga diperlukan melalui akses permodalan, pelatihan, peluang usaha, digitalisasi, serta pengembangan sumber daya manusia.

“Inkoppas mengharapkan Kemenkop agar lebih memperhatikan perkembangan gerakan koperasi ke depan, terutama dukungan terhadap akses permodalan, pelatihan, peluang berusaha, digitalisasi dan regenerasi yang menjadi tantangan untuk meraih peluang berusaha bagi koperasi-koperasi di Indonesia,” katanya.

Yudianto menambahkan digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda agar koperasi mampu bersaing di era modern. Pemanfaatan teknologi diyakini dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan sekaligus memperluas layanan kepada anggota.

Ia juga menekankan pentingnya regenerasi kepengurusan koperasi. Keterlibatan generasi muda dinilai akan menghadirkan inovasi sekaligus menjaga keberlanjutan gerakan koperasi di masa mendatang.

Karena itu, Inkoppas berharap koperasi pasar tidak hanya menjadi wadah berhimpunnya pedagang, tetapi berkembang menjadi badan usaha yang mampu mengelola aset produktif, menciptakan nilai ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan anggota secara berkelanjutan.

Gandeng BTN Percepat Digitalisasi dan Pembiayaan

Dalam upaya memperkuat transformasi koperasi pasar, Inkoppas telah menjalin kerja sama dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Kolaborasi tersebut ditujukan untuk mempercepat digitalisasi pasar tradisional sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi pedagang.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup pengembangan sistem pembayaran digital, peningkatan literasi keuangan, serta penyediaan berbagai layanan perbankan bagi pedagang pasar.

Yudianto mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan pedagang melalui pemanfaatan teknologi digital dan akses pembiayaan yang lebih mudah.

“Ke depan kita akan berkolaborasi terutama dalam hal digitalisasi pasar, kemudian juga bantuan literasi keuangan ataupun kredit yang mungkin diperlukan oleh pedagang pasar, baik untuk kegiatan usaha, kepemilikan rumah, maupun kepemilikan kios usaha,” ujar Yudianto.

Menurutnya, digitalisasi akan menghasilkan data usaha pedagang yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar penilaian kelayakan kredit. Melalui sistem big data dan credit scoring, bank dapat menawarkan produk pembiayaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap pedagang.

“Melalui data yang dikumpulkan, kita bisa mengetahui credit scoring dari masing-masing pedagang dan fasilitas apa yang bisa diberikan BTN. Tujuannya menciptakan pedagang pasar yang lebih sejahtera, melek digital, serta mampu mengelola keuangan dan bisnisnya dengan lebih baik,” katanya.

Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menilai digitalisasi pedagang pasar merupakan langkah strategis untuk memperluas inklusi keuangan di sektor perdagangan tradisional.

“Kita berusaha secara bertahap mendigitalisasi sistem pembayaran dan sistem keuangan para pedagang pasar. Ini sektor yang paling tradisional, tetapi justru punya potensi besar untuk dikembangkan melalui digitalisasi,” ujar Nixon.

Ia menjelaskan digitalisasi memungkinkan perbankan memperoleh data transaksi dan arus kas pedagang secara lebih akurat. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan kapasitas usaha sekaligus menawarkan produk pembiayaan yang tepat.

“Kalau datanya sudah diketahui, pedagang tidak perlu mencari kredit, justru bank yang akan menawarkan. Kita bisa melihat kapasitas usaha, cashflow, dan kemudian memberikan produk yang sesuai, termasuk KPR subsidi, KUR perumahan, hingga KUR produktif,” jelasnya.

Sebagai tahap awal, BTN akan memprioritaskan implementasi digitalisasi di pasar-pasar yang berada di sekitar jaringan operasional perseroan. Langkah tersebut diharapkan mempercepat penerapan program sekaligus memberikan manfaat langsung bagi pedagang.

Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Nuryanto, menyambut positif kolaborasi Inkoppas dan BTN. Menurutnya, kerja sama tersebut akan memperkuat tata kelola koperasi sekaligus meningkatkan kapasitas digital para anggotanya.

“Kami berharap kerja sama ini dapat meningkatkan literasi digital di kalangan Inkoppas hingga anggota perorangan. Digitalisasi sangat berkaitan dengan peningkatan kinerja koperasi, termasuk tata kelola yang selama ini masih menjadi tantangan,” kata Rully.

Ia menambahkan digitalisasi juga akan memperkuat posisi Inkoppas sebagai apex koperasi pedagang pasar di Indonesia.

“Ke depan, kerja sama ini diharapkan mendukung peningkatan peran Inkoppas sebagai apex koperasi, khususnya bagi koperasi-koperasi pedagang pasar, sekaligus mempercepat peningkatan kinerja koperasi secara keseluruhan,” ujarnya.

Melalui sinergi tersebut, Inkoppas dan BTN berharap dapat mempercepat transformasi pasar tradisional menuju ekosistem digital yang lebih modern. Kolaborasi ini juga diharapkan memperluas akses pembiayaan, meningkatkan literasi keuangan, serta memperkuat daya saing pedagang di era ekonomi digital. (sbh)