Ekspor Kopi Olahan RI Tembus Rp12,33 Triliun pada 2025

ILUSTRASI – Ekspor kopi olahan Indonesia mencapai USD692 juta atau Rp12,33 triliun pada 2025. Kemenperin menilai kopi dan teh berpeluang besar di pasar global. (Foto: Chatgpt/MajalahPIP)

MajalahPIP.com, JAKARTA – Produk kopi dan teh olahan Indonesia semakin berpeluang menembus pasar global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor kopi olahan mencapai USD692 juta atau sekitar Rp12,33 triliun pada 2025.

Nilai ekspor tersebut meningkat 4,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini menunjukkan potensi industri pengolahan kopi Indonesia dalam memperluas pasar produk bernilai tambah.

“Industri pengolahan menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia,” ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam pembukaan acara Specialty Indonesia 2026 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut Faisol, industri pengolahan tidak hanya memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar global. Industri tersebut juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan nasional.

 

Pasar Olahan Teh Terus Tumbuh

Selain kopi, industri pengolahan teh Indonesia juga memiliki prospek yang menjanjikan. Faisol mengatakan pasar produk turunan teh terus menunjukkan pertumbuhan secara global.

Pasar ekstrak teh tercatat tumbuh dari USD3,6 juta pada 2019 menjadi USD5,6 juta pada 2025. Sementara itu, pasar suplemen teh hijau mencapai USD909,9 juta pada 2025. Nilainya diproyeksikan meningkat menjadi USD1,33 miliar pada 2033.

“Kondisi ini menunjukkan besarnya peluang bagi industri teh Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar produk olahan bernilai tambah,” katanya.

Pertumbuhan pasar tersebut membuka peluang bagi industri teh nasional untuk tidak hanya mengandalkan ekspor komoditas dalam bentuk bahan mentah.

Pengembangan produk turunan dengan nilai tambah dapat menjadi strategi untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional.

Kakao dan Hortikultura Punya Potensi Besar

Selain kopi dan teh, Indonesia juga memiliki kekuatan pada industri pengolahan kakao. Indonesia tercatat sebagai produsen produk olahan kakao terbesar keempat di dunia.

Indonesia juga menjadi produsen biji kakao terbesar ketujuh dunia. Posisi tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan industri kakao berbasis hilirisasi.

Potensi serupa terdapat pada industri pengolahan hortikultura. Melimpahnya produksi buah dan sayuran nasional menjadi modal untuk mengembangkan produk olahan bernilai tambah.

Kinerja ekspor hortikultura juga terus menunjukkan peningkatan. Pada 2025, nilai ekspor produk hortikultura mencapai USD544,8 juta.

Komoditas nanas kaleng menjadi kontributor utama dengan menyumbang hampir separuh dari total nilai ekspor hortikultura.

Produk Susu hingga Keju Berpeluang Dikembangkan

Faisol mengatakan Indonesia juga memiliki potensi besar dalam pengembangan produk olahan susu. Produk bernilai tambah seperti keju dan gelato dinilai memiliki prospek seiring pertumbuhan industri kuliner nasional.

Produk keju Indonesia, khususnya, berpeluang berkembang seiring meningkatnya aktivitas industri bakery, hotel, restoran, dan kafe.

Pengembangan industri tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk berbasis sumber daya domestik.

Cerutu Premium Jadi Produk Unggulan

Sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) juga menjadi salah satu industri manufaktur strategis berbasis sumber daya alam lokal. Industri tersebut terus menunjukkan pertumbuhan dan menempatkan Indonesia sebagai eksportir IHT terbesar keenam di dunia.

“Salah satu produk tembakau unggulan adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki Na-Oogst (N.O.) yang telah diakui pasar internasional,” ujarnya.

Potensi tersebut menunjukkan produk berbasis komoditas lokal dapat memiliki daya saing tinggi apabila dikembangkan melalui pengolahan dan penguatan kualitas.

Produk Fermentasi Lokal Berpotensi Mendunia

Faisol juga menyoroti peluang pengembangan produk fermentasi berbasis bahan baku lokal. Berdasarkan Fortune Business Insights, pasar pangan fermentasi global diperkirakan mencapai USD788,33 juta pada 2025.

Pasar tersebut diproyeksikan menembus USD1,2 miliar pada 2034. Pertumbuhan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan produk fermentasi bernilai tambah.

“Oleh karena itu, produk olahan fermentasi berbasis lokal berpotensi untuk dikembangkan sebagai sub sektor industri yang mampu menciptakan nilai tambah dan menghasilkan produk yang berdaya saing. Saya berharap ajang ini menjadi ruang yang besar dengan para pelaku bisnis, pengguna, hotel dan restoran dan juga brand image brand kita dikenal di mancar negara,” pungkasnya. (sbh)