UGM Raih Penghargaan Pendamping Koperasi, Siapkan Digitalisasi hingga AI

Universitas Gajah Mada (UGM) menerima penghargaan sebagai Mitra Pendamping Koperasi DIY. Program pendampingan difokuskan pada digitalisasi, tata kelola, hingga pemanfaatan AI. (Foto: Dok UGM)

MajalahPIP.com, YOGYAKARTA – Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima penghargaan dari Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai Mitra Pendamping Koperasi dalam ajang Gebyar Koperasi 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi UGM dalam memperkuat kelembagaan dan meningkatkan kapasitas koperasi di DIY.

Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si., mengatakan penghargaan itu menjadi bentuk pengakuan atas kepercayaan pemerintah dan masyarakat terhadap peran UGM dalam mendampingi koperasi.

“Penghargaan ini merupakan prestasi atas kepercayaan pemerintah dan masyarakat terhadap UGM. Kita membuka peluang peningkatan kapasitas koperasi, baik dalam bentuk inovasi maupun ruang untuk menjawab tantangan perkoperasian itu sendiri,” jelasnya saat diwawancarai, Kamis (30/7/2026).

Menurut Djoko, pendampingan yang dilakukan UGM berbeda dari pelatihan pada umumnya. Program diawali dengan pemetaan persoalan yang dihadapi masing-masing koperasi sehingga solusi yang diberikan lebih tepat sasaran.

 

Pendekatan tersebut dinilai mampu mendorong koperasi berkembang secara kolektif. Koperasi tidak hanya tumbuh secara mandiri, tetapi juga saling menguatkan dan meningkatkan daya saing bersama.

“Skema pendampingan itu ternyata sangat efektif agar koperasi-koperasi ini merasa maju bersama-sama, berdaya bersama-sama, tidak sendiri-sendiri, tidak saling kanibal, tetapi bersama-sama memajukan koperasi menjadi koperasi yang berdaya,” ungkapnya.

Hasil identifikasi UGM menunjukkan sedikitnya terdapat lima tantangan utama yang dihadapi koperasi. Persoalan tersebut meliputi kualitas sumber daya manusia pengurus, tata kelola organisasi, pemasaran, penerapan teknologi tepat guna, serta inovasi dan digitalisasi usaha.

Djoko mengatakan pemetaan itu menjadi dasar dalam menentukan bentuk pendampingan sesuai kebutuhan setiap koperasi.

“Pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan setiap koperasi,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, UGM melibatkan dosen dari berbagai disiplin ilmu sesuai bidang keahlian masing-masing. Pendampingan dilakukan langsung di lokasi koperasi agar solusi yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Karena ketika kita sudah memiliki peta kelemahannya, maka kita pilihkan pendamping yang tepat,” jelasnya.

Saat ini, program pendampingan berlangsung selama tiga bulan. Ke depan, UGM berencana melibatkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM).

Melalui program tersebut, mahasiswa akan mendampingi koperasi selama pelaksanaan KKN sehingga proses penguatan kelembagaan berlangsung lebih intensif.

“Nanti kita akan menggandeng teman-teman mahasiswa yang melaksanakan KKN-PPM dalam penguatan koperasi. Selama sekitar 50 hari mereka berada di dekat koperasi sehingga pendampingannya lebih masif,” terangnya.

Selain memperkuat modul pelatihan dan pendampingan, UGM juga akan memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, sektor swasta, serta berbagai pemangku kepentingan.

Digitalisasi menjadi salah satu fokus utama pengembangan koperasi. Menurut Djoko, koperasi harus mulai beradaptasi dengan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), agar mampu meningkatkan daya saing sekaligus menarik minat generasi muda.

“Mau tidak mau kita harus bisa berdampingan dengan teknologi dan AI. Sebelum masuk ke AI, koperasi harus siap dulu dengan digitalisasi. Dan itu sudah kami siapkan dalam modul-modul pendampingan,” jelasnya.

Untuk sementara, program pendampingan difokuskan pada koperasi di DIY. UGM berharap koperasi yang telah diperkuat dapat menjadi model bagi daerah lain serta mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang menghubungkan koperasi dan pelaku UMKM.

“Kali ini kita fokus di DIY terlebih dahulu. Kalau koperasi-koperasi yang sudah existing ini mantap dan kuat, bisa menjadi role model. UMKM juga bisa menjadi buffer zone bagi koperasi sehingga terbentuk ekosistem perekonomian yang pro rakyat,” pungkasnya. (RUS)