54 Pengurus KDKMP dari 31 Provinsi Magang di Lamongan

Sebanyak 54 pengurus KDKMP dari 31 provinsi mengikuti magang di Lamongan untuk memperkuat kemampuan pengelolaan koperasi. (Foto: Istimewa)

MajalahPIP.com, LAMONGAN – Sebanyak 54 pengurus Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dari 31 provinsi mengikuti program magang di Lamongan.

Program tersebut menjadi wadah pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pengurus dalam mengelola koperasi secara profesional dan modern.

Kegiatan yang digelar Kementerian Koperasi (Kemenkop) itu berlangsung selama delapan hari.

Para peserta mengikuti pembelajaran melalui praktik langsung di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sunan Drajat, Lamongan.

 

Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, mengatakan program tersebut menjadi bekal pengurus. Bekal itu diharapkan dapat diterapkan untuk mengembangkan KDKMP di daerah masing-masing.

“Para peserta membawa bekal pembelajaran nyata mengenai pengelolaan koperasi yang profesional, produktif, dan berkelanjutan untuk diterapkan di daerah masing-masing,” kata Destry saat penutupan Magang bagi Pengurus KDKMP Sektor Serba Usaha di Lamongan.

Menurut Destry, penguatan KDKMP perlu diawali dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pengurus koperasi dituntut memiliki kompetensi dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai perubahan.

Mereka juga diharapkan mempunyai jiwa kewirausahaan untuk mengembangkan potensi usaha koperasi.

“Keberhasilan kegiatan magang tidak hanya diukur dari kehadiran selama kegiatan berlangsung, melainkan dari langkah nyata yang lahir setelah peserta kembali ke daerah,” ujarnya.

Selama magang, para peserta memperoleh pengetahuan, pengalaman, sekaligus jejaring kerja. Seluruh pengalaman tersebut diharapkan memperkuat tata kelola dan pengembangan usaha koperasi.

Materi Magang KDKMP

Materi yang diberikan mencakup regulasi dan kebijakan perkoperasian serta tata kelola koperasi. Peserta juga mempelajari koordinasi antara pengurus dan pengelola, kepemimpinan, serta kewirausahaan.

Materi lainnya meliputi identifikasi potensi dan inovasi usaha, kolaborasi, serta inkubasi usaha. Peserta turut mempelajari pengembangan circular business dan ekosistem bisnis berkelanjutan.

Selain itu, terdapat materi pengelolaan keuangan, strategi permodalan, dan penyusunan proposal bisnis. Peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai evaluasi serta mitigasi risiko dalam pengelolaan koperasi.

“Metodologi dan materi pelaksanaan magang menggunakan dua skema, yaitu pembekalan materi dan studi kunjungan (study visit), serta praktik langsung (on the job training),” jelas Destry.

Destry mengatakan KDKMP diharapkan menjadi ruang bersama untuk mengonsolidasikan berbagai potensi ekonomi desa.

Pengelolaan koperasi yang sehat dinilai mampu memperkuat perekonomian desa. Kondisi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kegiatan magang ini telah berakhir, namun perjalanan memajukan KDKMP baru saja dimulai. Terapkan pengalaman yang diperoleh, hadirkan inovasi, dan bangun koperasi yang kuat, modern, serta bermanfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.

317 KDKMP Terbangun di Lamongan

Sementara itu, Kepala Bidang Perkoperasian Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Lamongan, Yusup Efendi, mengungkapkan capaian pembangunan KDKMP. Lamongan menjadi daerah dengan jumlah KDKMP terbanyak yang telah terbangun secara fisik.

“Sebanyak 317 unit KDKMP telah terbangun secara fisik di Lamongan. Dari jumlah tersebut, tahap pertama sebanyak 90 unit telah mulai beroperasi,” kata Yusup.

Menurut Yusup, jumlah KDKMP yang besar menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Salah satu tantangan tersebut berkaitan dengan kesiapan pengurus menjalankan operasional koperasi.

Dia mengakui masih terdapat sejumlah kendala meski bangunan koperasi telah berdiri. Namun, respons masyarakat terhadap keberadaan KDKMP dinilai cukup positif.

Salah satu indikatornya terlihat dari omzet salah satu KDKMP di Lamongan. Omzet koperasi tersebut mencapai Rp14 juta hanya dalam sehari saat peluncuran awal.

“Barang yang paling banyak diburu masyarakat adalah kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan elpiji,” ujarnya.

Yusup menilai capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi KDKMP di tingkat desa. Potensi tersebut dapat berkembang apabila didukung jalur logistik yang baik.

Pengelolaan koperasi secara profesional juga menjadi faktor penting dalam mengembangkan usaha. “Ini membuktikan bahwa jika jalur logistik terjamin dan pengelolaan berjalan baik, keberadaan KDKMP akan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Yusup optimistis berbagai kendala pengelolaan KDKMP dapat diselesaikan secara bertahap. Menurutnya, kemampuan pengurus akan semakin berkembang seiring bertambahnya pengalaman.

Kesiapan pengurus di tingkat desa juga diharapkan semakin matang dalam menjalankan koperasi. “Insya Allah kendala yang ada saat ini akan teratasi seiring berjalannya waktu dan semakin matangnya pengelolaan di tingkat desa,” imbuhnya. (sbh)